Follow detikFinance
Sabtu 01 Apr 2017, 19:37 WIB

Dirut PT PAL Tersangka, Waktunya Bersih-bersih!

Michael Agustinus - detikFinance
Dirut PT PAL Tersangka, Waktunya Bersih-bersih! Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Di tengah upayanya untuk bangkit dari keterpurukan, PT PAL Indonesia (Persero) tertimpa masalah baru. Direktur Utama PT PAL, M Firmansyah Arifin, ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dugaan suap dalam proyek dua kapal perang pesanan Filipina.

Firmansyah tak sendiri, KPK juga menetapkan tersangka lainnya yaitu Saiful Anwar, Direktur Keuangan dan Teknologi PT PAL Indonesia, dan Arief Cahyana, GM Treasury PT PAL Indonesia.

Padahal kinerja PT PAL sudah mulai menanjak. BUMN Perkapalan ini mulai mengekspor kapal perang ke Filipina. Setelah sukses menyelesaikan kapal perang Strategic Sealift Vessel (SSV) pertama dan mengirimnya pada akhir September 2016 lalu, satu unit SSV lagi akan diterima militer Filipina bulan ini.

Dugaan kasus suap yang menimpa Firmansyah tentu membuat citra PT PAL tercoreng. Butuh waktu untuk membuat nama PT PAL kembali bersih lagi.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menyatakan pemerintah harus segera bersih-bersih, mengangkat orang-orang baru yang berintegritas untuk memimpin PAL. Langkah ini diperlukan untuk memulihkan citra dan semangat di PT PAL.

"Dipastikan ini mempengaruhi nama baik perusahaan. Sekarang waktunya untuk mengganti dengan orang-orang yang bersih," kata Said Didu kepada detikFinance, Sabtu (1/4/2017).

Untungnya PAL bukan perusahaan yang bergantung pada kepercayaan publik. Menurut Said Didu, industri perkapalan lebih bergantung pada kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.

Selama PAL bisa terus meningkatkan kualitas SDM dan teknologinya, order pembuatan kapal dari pembeli di luar negeri akan terus mengalir. "Industri perkapalan bukan bergantung pada kepercayaan publik. Tapi berbasis teknologi dan kompetensi SDM," tukasnya.

PAL masih bisa terus berlari, tapi harus hati-hati agar tak tersandung lagi. Said Didu mengingatkan, PAL harus waspada jika ada negara yang melakukan pengadaan kapal lewat agen. Permainan biasa terjadi lewat perantaraan agen.

Bukan hanya PAL saja yang tersangkut kasus gara-gara berbisnis lewat agen. Said Didu menuturkan, mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar juga jadi tersangka akibat praktek serupa dalam pengadaan mesin pesawat. Jangan sampai PAL atau BUMN lain jatuh ke lubang yang sama.

"Kalau pengadaan lewat agen harus waspada lebih tinggi, setiap pengadaan lewat agen harus waspada. Kalau ada negara-negara bersih melakukan pengadaan lewat agen, harus dicurigai," tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT PAL, Elly Dwiratmanto, menyatakan bahwa kinerja perusahaan tak terganggu oleh kasus yang menimpa 2 orang direksinya. Semua order dari pembeli tetap terlayani dengan baik.

"Secara kinerja perusahaan, damapknya tidak signifikan," kata Elly saat dihubungi detikFinance.

Setelah Kementerian BUMN menunjuk pengganti untuk kedua direksi yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, PAL bisa kembali berlari cepat. "Nanti kan diputuskan penggantinya oleh Kementerian BUMN. Setelah itu kita bisa berjalan normal lagi. Secara sistem sudah berjalan siapapun yang jadi dirut," tutupnya. (mca/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed