"Industri minuman itu turun pada kuartal I-2017 sebesar 3,5 persen, diharapkan ini pada saat puasa hingga lebaran ini menjadi momentum kenaikan," kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Willem Petrus Riwu, di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (24/5/2017).
Willem menjelaskan, ada beberapa hal yang menyebabkan industri minuman ringan turun, seperti lesunya daya beli, hingga kampanye negatif dari sosial media.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, media sosial sosial berpengaruh terhadap industri minuman ringan, dengan kata lain pola konsumsi dipengaruhi oleh informasi. Artinya, kalau informasi sifatnya baik, maka berpengaruh positif terhadap industri minuman ringan.
Solusinya, harus ada diverifikasi atau penganekaragaman produk minuman ringan.
"Upayanya melakukan diversifikasi (produk) misalnya pengecilan ukurannya, karena memang kampanye-kampanye kontradiktif menurunkan konsumsi masyarakat," pungkas Willem. (hns/hns)











































