Follow detikFinance
Sabtu 17 Jun 2017, 15:44 WIB

China Gelontorkan Rp 21 Triliun Bangun Industri di Sulawesi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
China Gelontorkan Rp 21 Triliun Bangun Industri di Sulawesi Ilustrasi kawasan industri. Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - China akan berinvestasi di Indonesia senilai US$ 1,63 miliar atau setara Rp 21,6 triliun (kurs Rp 13.300). Dana ini akan digunakan untuk membangun kawasan industri di luar pulau Jawa yakni Sulawesi Tengah.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian gencar mendorong investor China untuk menambah pengusahanya dan menanamkan modal di Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, dengan adanya kerja sama business to business (B to B) antara kedua negara diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk peningkatan daya saing industri nasional.

"Diharapkan juga mampu memacu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/6/2017).

Komitmen sinergi ini direalisasikan melalui penandatanganan MoU antara Tsingshan Group dan Delong Group dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park tentang kerja sama pembangunan pabrik carbon steel di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas 3,5 juta ton per tahun dan nilai investasi US$ 980 juta.

Selain itu, Tsingshan Group dengan Bintang Delapan Group dan PT Indonesia Morowali Industrial Park bekerja sama untuk pembangunan pembangkit listrik di kawasan Industri Morowali, dengan kapasitas 700 Megawatt dan nilai investasi US$ 650 juta.

Airlangga menyebutkan, kerja sama ini merupakan lanjutan dari pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden China Xi Jinping di Belt and Road Initiative di Beijing, Mei lalu.

"Pemerintah juga mendorong peningkatan kerja sama investasi China di kawasan Industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara, serta kawasan industri prioritas lainnya seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Utara," tambah dia.

Penandatanganan kedua MoU dilakukan di sela pelaksanaan China-Indonesia Cooperation Forum: Belt and Road Initiative and Global Maritime Fulcrum di Beijing, Tiongkok, 16 Juni 2017. Turut menyaksikan kesepakatan kerja sama tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, dan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Sugeng Rahardjo.

Dari data Kemenperin, China merupakan penanam modal asing sektor manufaktur urutan ketiga dengan nilai US$ 2 miliar. Ini tersebar pada 594 proyek. Nilai ini meningkat 839% dibanding periode yang sama tahun 2015.

Selama 2014–2016 konsentrasi investasi manufaktur China di Indonesia adalah di sektor logam, mesin dan elektronik, mineral non logam, kimia dan farmasi serta makanan. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed