Follow detikFinance
Senin 10 Jul 2017, 09:03 WIB

Garmen RI dan Kompetisinya di Kancah Internasional

Danang Sugianto - detikFinance
Garmen RI dan Kompetisinya di Kancah Internasional Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto. Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Garmen merupakan salah satu industri andalan Indonesia. Banyaknya ketersediaan lapangan kerja membuat industri garmen di Indonesia cukup berkembang selama puluhan tahun.

Salah satu perusahaan nasional yang berkembang besar di ranah ini adalah PT Pan Brothers Tbk (PBRX). Seakan industri ini tak pernah mati, Pan Brothers terus meraup pundi-pundi keuntungan hingga triliunan rupiah setiap tahunnya.

Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto percaya industri garmen tidak akan pernah mati sampai kapan pun. Sebab manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki sopan santun pasti akan selalu membutuhkan pakaian. Tidak hanya itu, perekonomian dunia yang terus berkembang membuat garmen selalu membesar.

"Kebutuhan pakaian jadi juga selalu meningkat dengan GDP masing-masing negara yang selalu naik dan kita selalu membutuhkan pakaian baju yang layak otomatis prospeknya di mata saya akan terus berkembang. Jadi saya sangat percaya, karena apapun yang terjadi baik teknologi berkembang sampai titik manapun kita pasti membutuhkan baju," tuturnya saat berbincang dengan detikFinance seperti ditulis Senin (9/7/2017).

Namun meski ranah industri garmen begitu luas, peta persaingan selalu ada di dunia bisnis. Anne menilai seluruh pelaku industri garmen selalu ditantang untuk membuat produk dengan kualitas yang terus meningkat namun dengan harga yang rendah. Oleh karena itu, efisiensi menjadi kunci sukses di ranah bisnis ini.

Jika melihat secara industri, menurut Anne kunci paling penting bagi perusahaan garmen adalah tenaga kerja. Sebab industri garmen sangat membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak.

"Kebetulan orang-orang kita memang dari awal cocok untuk industri pakaian jadi terutama di pulau Jawa. Karena di Pulau Jawa terjadi yang namanya revolusi manusia, mulai dari berburu ke pertanian, ke industri baru jasa. Terlihat kita kuatnya di garmen. Kantong-kantong pekerjaannya cocok untuk memproduksi dalam lingkungan manufacturing," imbuhnya.

Indonesia, kata Anne, sangat beruntung karena memiliki penduduk yang begitu besar. Selain itu, meski pendidikan masyarakat Indonesia masih belum tinggi namun masih lebih baik ketimbang negara-negara regional.

Dari sisi upah minimum, Indonesia memang tidak bisa dibilang paling murah. Masih ada negara-negara kawasan yang lebih rendah seperti Kamboja dan Myanmar, namun itu karena tingkat pendidikan mereka juga lebih rendah.

"Nah Indonesia saat ini masih diminati bukan karena aturan, tapi lebih karena perusahaan perusahaan garmen di Indonesia pada posisi yang tepat. Karena pekerja kita cocok dengan industri manufacturing," imbuhnya.

Namun, kejayaan industri garmen Indonesia kini mulai terusik dengan munculnya negara potensial lainnya, seperti Vietnam. Menurut Anne kebangkitan industri garmen Vietnam karena adanya dukungan dari pemerintahnya yang cukup besar terutama dari sisi insentif pekerja untuk perusahaannya.

"Secara aturan mereka lebih pro terhadap garmen dari sisi labor insentif. Aturan di Indonesia ini banyak dan terhadap garmen belum terealisasi aturan yang nyata. Memang secara mayoritas pemerintah bisa ngomong sudah ada aturannya, tapi secara real belum kepada industri garmen," terangnya.

Labor insentif yang dimaksud Anne dalam arti pemerintah memberikan insentif untuk hal ekspor. Misalnya insentif dari sisi PPh badan.

"Dari sisi listrik sudah ada subsidi, tapi garmen tidak memerlukan banyak listrik. Kalau industri tekstil mungkin tapi garmen enggak butuh banyak listrik. Aturan aturan PPH itu untuk insentif garmen ekspor belum nyata," tukasnya.

Tidak hanya itu, Vietnam lebih unggul dari Indonesia lantaran pemerintahnya telah menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan banyak negara di dunia. Hal itu menguntungkan pelaku garmen Vietnam karena memiliki beban yang lebih rendah saat ekspor dibanding kompetitornya.

Selain itu pemerintah Vietnam juga memastikan seluruh rantai industri gamen ada di negaranya. Seperti industri tekstil dan benang. Tentu semua itu membuat industri garmen Vietnam memiliki bekal lebih besar saat bersaing dengan kompetitornya di kancah Internasional.

(ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed