Follow detikFinance
Senin 10 Jul 2017, 10:50 WIB

Benarkah Garmen RI Kalah dengan Vietnam?

Danang Sugianto - detikFinance
Benarkah Garmen RI Kalah dengan Vietnam? Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Industri garmen Indonesia disebut-sebut kini memiliki pesaing sengit baru yakni Vietnam. Bahkan industri garmen Indonesia kini dianggap kalah dengan Vietnam.

Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto mengamini hal tersebut. Menurutnya Indonesia kalah lantaran pelaku industri garmen Vietnam memiliki bekal lebih banyak saat bersaing di kancah internasional.

Anne menjelaskan, pertama, industri garmen Vietnam bisa berkembang lantaran adanya dukungan dari pemerintahnya yang cukup besar terutama dari sisi insentif pekerja untuk perusahaannya.

"Secara aturan mereka lebih pro terhadap garmen dari sisi labor insentif. Aturan di Indonesia ini banyak dan terhadap garmen belum terealisasi aturan yang nyata. Memang secara mayoritas pemerintah bisa ngomong sudah ada aturannya, tapi secara real belum kepada industri garmen," tuturnya saat berbincang dengan detikFinance seperti ditulis Senin (9/7/2017).

Labor insentif yang dimaksud Anne dalam arti pemerintah memberikan insentif untuk hal ekspor. Misalnya insentif dari sisi PPh badan.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah memberikan dukungan dari sisi subsidi listrik. Namun menurut Anne industri garmen tidak butuh banyak listrik seperti industri tekstil.

"Perbedaan paling nyata itu jam kerja. Di kita itu jam kerjanya 40 jam seminggu, sementara di Vietnam 48 jam seminggu. Jadi upah minimum mereka dari dasar perhitungan 48 seminggu kita 40 jam seminggu. Bedanya 20% dan paket-paket retrenchment yang mereka kasih lebih rendah dari pada Indonesia," tambahnya.

Kedua, Vietnam lebih unggul dari Indonesia lantaran pemerintahnya telah menjalin kerjasama perdagangan bebas dengan banyak negara di dunia. Hal itu menguntungkan pelaku garmen Vietnam karena memiliki beban yang lebih rendah saat ekspor dibanding kompetitornya.

Selain itu pemerintah Vietnam juga memastikan seluruh rantai industri gamen ada di negaranya. Seperti industri tekstil dan benang. Mereka bisa menarik investor untuk berinvestasi di rantai industri garmen.

"Karena di sana mereka bisa berikan kepastian investasi lebih cepat. Kalau di-Indonesia-kan berinvestasi perlu waktu perizinannya dan sebagainya. Mereka kawasan Industrinya saja dipersiapkan dan tidak mahal. Kita kan gak bisa berdiri sendiri sebagai garmen harus ada supply chain seperti pabrik kain," tambahnya.

Menurut Anne pabrik-pabrik kain di Indonesia saat ini belum mampu memenuhi semua kebutuhan industri garmen. Oleh karena itu perusahaan garmen Indonesia terpaksa untuk impor bahan baku.

"Sebenarnya kan lebih indah kalau kita bisa ambil dari pabrik kain di indonesia, jadi dari Indonesia ke Indonesia. Untuk itu perlu foreign direct investment," tukas Ane.
(ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed