Follow detikFinance
Senin 10 Jul 2017, 11:30 WIB

Kisah Anne Besarkan Pemasok Uniqlo dan Adidas yang Hampir Bangkrut

Danang Sugianto - detikFinance
Kisah Anne Besarkan Pemasok Uniqlo dan Adidas yang Hampir Bangkrut Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Anne Patricia Sutanto merupakan salah satu sosok di balik besarnya salah perusahaan garmen raksasa di Indonesia yakni PT Pan Brothers Tbk. Meski seorang wanita, dirinya bekerja tak kalah keras dengan rekan-rekan direksi lainnya.

Anne sendiri dukuk di kursi direksi Pan Brothers sejak 1 April 1997. Saat itu berbarengan dengan proses peralihan kepemilikan Pan Brothers.

Saat itu, kata Anne, Pan Brothers yang berdiri sejak 1980 sudah hampir bangkrut. Pemiliknya yang dulu lebih memilih untuk menyelamatkan bisnisnya yang lain dan melepas Pan Brothers.

"Pan Brothers saat itu tidak dipercaya oleh buyer-buyer-nya karena ada kesalahan pengiriman. Selain itu juga pada 1997 terjadi krisis ekonomi sehingga di satu sisi pencarian pendanaan Pan Brothers yang sudah hampir mati tidak bisa banyak. Karena orang takut, beresiko, apalagi lagi sedang krisis," kenangnya saat berbincang dengan detikFinance seperti ditulis Senin (9/7/2017).

Kala itu, salah satu fokus utama Anne dan direksi lainnya untuk menyelamatkan Pan Brothers dengan mengembalikan nama baik. Mereka berusaha meyakinkan para rekanan perusahaan bahwa manajemen yang baru Pan Brothers akan lebih baik.

Di samping itu, Pan Brothers juga terbilang cukup beruntung dengan lonjakan kurs yang terjadi saat krisis moneter berlangsung. Maklum saja, Pan Brothers yang berorientasi ekspor memiliki pemasukan dalam bentuk dolar sementara biaya yang dikeluarkan dalam bentuk rupiah. Sehingga selisih kurs cukup membantu perusahaan untuk kembali bangkit.

"Lalu tahun 2.000 kita ke posisi normal lagi. Karena dulu kalau beli bahan kan dikonversi ke rupiah sementara pendapatan kita dolar. Jadi kita punya keuntungan selisih kurs, sehingga memperkuat permodalan kita. Dengan permodalan yang semakin kuat otomatis kita bisa berkembang," imbuhnya.

20 tahun lamanya, Anne berjibaku mengembangkan Pan Brothers. Meskipun dia seorang wanita, dia mengaku tanggung jawabnya terhadap Pan Brothers sama besarnya dengan direksi yang lain.

"Jenis kelamin tidak bisa menjadi alasan bahwa itu adalah tantangan. Karena ketika kita sudah komitmen untuk bekerja baik itu pria ataupun wanita tanggung jawabnya sama, karena di belakang kita banyak orang yang menggantungkan hidupnya kepada kita," ujarnya.

Ibu dua anak ini mengaku sangat anti untuk berlindung dari kodratnya sebagai wanita agar mendapatkan perlakuan spesial dibanding dengan rekan kerja lainnya.

"Dari awal saya memang punya prinsip this is my choices, my commitment, my also responsibity and accountability. And my dream is Pan Brothers become number one in the world until today," imbuhnya.

Sebelum di Pan Brothers, Anne juga pernah menjabat sebagai direktur di Keris Group dan Kayu Lapis Group, yang kebetulan keduanya merupakan perusahaan warisan dari keluarga ibu dan ayahnya.

Anne sendiri pernah menempuh pendidikan di University of Southern California dan mendapatkan gelar Master of Business Administration (MBA) dari Loyola Marymount University, Los Angeles. (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed