ADVERTISEMENT

RI Mau Impor 75.000 Ton Garam, Bisa Atasi Kelangkaan?

Hans Henricus BS Aron - detikFinance
Senin, 31 Jul 2017 13:44 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Kelangkaan pasokan garam melanda sejumlah daerah di Indonesia. Sebagai solusinya, pemerintah bakal mengimpor 75.000 ton garam dari Australia melalui PT Garam.

Pertanyaannya, cukupkah jumlah tersebut untuk mengatasi kelangkaan garam? Ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI), Tony Tanduk, mengatakan 75.000 ton itu hanya mampu untuk memenuhi konsumsi, belum termasuk kebutuhan industri

"75.000 ton itu sangat kecil, dan hanya untuk mengisi kebutuhan konsumsi langsung," ujar Tony kepada detikFinance, Senin (31/7/2017).


Sedangkan untuk industri yang memakai garam sebagai bahan baku belum terpenuhi. Misalnya untuk pengasinan ikan, penyemakan kulit, tekstil, pakan ternak.

Menurut Tony impor garam yang ideal hingga akhir 2017 adalah 500.000-600.000 ton. Jumlah ini sudah bisa memenuhi kebutuhan konsumsi hingga industri.

"Ini sudah termasuk untuk konsumsi, dan industri penyemakan kulit dan aneka pangan," kata Tony.


Dia menambahkan, masalah kelangkaan garam ini dipicu curah hujan yang tinggi di daerah penghasil garam, seperti Madura, Cirebon, Indramayu, Pati Rembang, Jepara, Pasuruan dan Gresik. Di sisi lain, impor garam telat dibuka sehingga pasokan langka, terutama ke sektor industri.

"Harusnya ada pengamanan dari pemerintah karena garam itu bahan baku bukan produk jadi. Masuk pun harus diolah dulu," tutur Tony. (hns/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT