Follow detikFinance
Senin 02 Oct 2017, 14:55 WIB

Cerita Batik China yang Sempat Booming di RI dan Kini Meredup

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Cerita Batik China yang Sempat Booming di RI dan Kini Meredup Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Thamrin City merupakan salah satu pusat perbelanjaan batik di Jakarta Pusat. Di sana, berbagai batik khas daerah mudah ditemukan. Sebut saja batik khas Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Garut, Cirebon, serta batik dari daerah lainnya.

Selain batik asli Indonesia, di Thamrin City juga sempat beredar produk batik impor dari China. Batik asal negeri tirai bambu itu beredar sekitar 2012 hingga 2013 lalu. Lantas bagaimana kondisinya sekarang?

Sejumlah pedagang mengaku batik impor China di Thamrin City sudah sulit ditemukan. Mereka mengatakan, sebagian pedagang sudah jarang yang menjual batik China tersebut.

"Sekarang sudah susah cari di sini (Thamrin City), udah jarang yang jual. Enggak tau cari dimana kalau di sini," kata Amin, pedagang batik di lokasi saat berbincang dengan detikFinance, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Amin mengatakan, pada pertengahan tahun 2013 lalu batik China sudah jarang beredar di Thamrin City. Menurutnya, pembeli sudah kurang tertarik dengan batik tersebut.

"Kalau namanya batik kan memang begitu, suka musiman. Kadang pembeli lagi senang batik jenis apa, batik yang warna apa jadi musiman. Itu batik China cuma sebentar ada di sini," terangnya.

Lantas, kenapa konsumen kurang tertarik batik impor China? Seorang pedagang batik lainnya bernama Lutfi menambahkan, batik China hanya sempat ramai di awal 2013 lalu, setelah itu batik China mulai ditinggalkan.

"Karena panas bahannya, karena kan kurang bagus di murah. Jadi pelanggan kurang senang. Itu booming cuma tahun 2013 lalu, sekarang sudah sulit dicari," katanya.

Tanah Abang

Tak hanya di kawasan Thamrin City, batik China yang sempat booming beberapa tahun lalu juga sudah sulit didapat di Pusat Perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berdasarkan penelusuran detikFinance di Blok A dan Blok B Tanah Abang, mulai dari lantai dasar hingga lantai 2 yang menjadi pusat penjualan batik, batik asal negeri tirai bambu itu sulit sudah dicari.

Para pedagang di sana mengaku tak menjual batik asal China. Mereka hanya menawarkan batik-batik lokal dari berbagai daerah nusantara.

"Enggak ada kalau batik China, di sini enggak jual," kata seorang pedagang bernama Eny saat berbincang dengan detikFinance di tokonya.

"Kita enggak jual batik China di sini, adanya batik lokal," ungkap seorang pedagang batik lainnya bernama Herman.

Batik asal China sendiri memang sempat memasuki Pusat Grosir Tanah Abang pada beberapa tahun lalu. Namun saat ini, pedagang sudah jarang yang menjual produk impor tersebut.

"Dulu banyak, itu tahun 2013. Tapi sekarang sudah enggak jual. Tapi enggak tahu juga ya kalau ada yang masih jual, saya enggak tahu," kata pedagang batik Tanah Abang bernama Eko.

Eko mengatakan, saat ini masyarakat lebih senang menggunakan batik-batik khas daerah. Menurutnya, batik produksi asli lokal lebih nyaman digunakan dibanding produk impor.

"Kalau batik kan memang senangnya musiman, seperti sekarang orang lagi senang batik-batik warna gelap seperti cokelat. Kalau batik China memang kurang disukai. Jadi pedagang juga udah pada enggak jual," jelasnya.


(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed