Follow detikFinance
Jumat 24 Nov 2017, 10:37 WIB

Laporan dari Singapura

Menlu Singapura: Startup RI Jadi Perhatian Internasional

Maikel Jefriando - detikFinance
Menlu Singapura: Startup RI Jadi Perhatian Internasional Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan (Foto: Maikel Jefriando-detikFinance)
Singapura - Singapura dan Indonesia telah berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi digital. Komitmen tersebut diraih melalui pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong di Singapura beberapa waktu lalu.

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan menyatakan, kedua pimpinan negara melihat ada peluang besar untuk menggenjot digital ekonomi. Apalagi sekarang perkembangannya sangat pesat. Menurutnya banyak perusahaan startup Indonesia menjadi perhatian dunia Internasional.

"Di Jakarta, ada banyak perusahaan digital startup yang berkembang dengan sangat baik. Ekonomi digital di Jakarta, sudah diperhatikan secara internasional," ungkap Vivian saat berbincang dengan perwakilan jurnalis ASEAN di kantornya, Singapura, Jumat (24/11/2017).

Sebagai negara tetangga, kata Vivian, Singapura akan membantu Indonesia dalam mengembangkan ekonomi digital. Singapura telah memiliki infrastruktur yang cukup kuat dan kapasitas dalam mewujudkan hal tersebut. Salah satunya dengan optimalisasi kawasan Batam Bintan Karimun (BBK).

"Perekonomian digital merupakan peluang besar bagi Indonesia dan Singapura untuk bekerja sama semakin erat," terangnya.

Singapura mendorong perusahaan lokal untuk berkembang ke luar Singapura, membantu banyak perusahaan lain di Indonesia maupun negara di kawasan Asia Tenggara lainnya juga ikut berkembang. Tujuan akhirnya adalah masuk dalam pertarungan pasar global.

"Salah satu proyek yang ingin kami tingkatkan selama Kepemimpinan ASEAN adalah mengenai Kota Pintar, kami ingin menghubungkan semua simpul perusahaan dan teknologi baru ini untuk saling berhubungan agar pengusaha kita berbagi gagasan, memodifikasi dan sekaligus menerapkan dan kemudian bekerja sama untuk mengakses pasar global," ujarnya.

Tantangan ASEAN di Masa Depan

Vivian memandang perkembangan dunia yang sangat cepat menjadi tantangan tersendiri bagi ASEAN. Maka masing-masing negara harus bersiap untuk melakukan antisipasi.

Pertama adalah tentang keseimbangan kekuatan. China dinilai kembali bangkit setelah banyak analisa meyakini negeri tirai bambu tersebut akan mengalami kejatuhan ekonomi yang sangat keras karena tidak mampu menggeser sumber ekonomi.

Kedua, yaitu fundamental ekonomi. Banyak negara selalu terkendala ketika negara besar di dunia mengubah kebijakan fiskal maupun moneter.

"Ini harus dilakukan penguatan fundamental, secara internal maupun kawasan," paparnya.

Ketiga adalah revolusi digital. "Revolusi digital ini mengubah cara kita hidup, bekerja dan bermain. Pekerjaan lama hilang, upah kelas menengah berada di bawah tekanan, dan ada pekerjaan baru yang diciptakan, tapi juga ada ketidakcocokan keterampilan," jelasnya.

Untuk itu solusinya adalah perlu dilakukan restrukturisasi ekonomi, menyediakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan infrastruktur. Pemerintah harus dapat memastikan masyarakat tidak gelisah karena adanya revolusi.

Keempat adalah persatuan ASEAN. Kawasan ini menjadi perhatian dunia Internasional karena kekuatan persatuan.

"Jadi kita melihat keseimbangan kekuatan secara geostrategis, fundamental pertumbuhan ekonomi, revolusi digital dan kemudian kita sendiri secara internal, apakah kita akan tetap bersatu-semua ini adalah tantangan mendasar," pungkasnya. (mkj/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed