Follow detikFinance
Jumat 26 Jan 2018, 18:47 WIB

Sawit Dijegal Eropa, RI Cari Pasar Baru ke India hingga China

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sawit Dijegal Eropa, RI Cari Pasar Baru ke India hingga China Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Komoditas sawit Indonesia masih dijegal di Uni Eropa. Langkah ini juga mempengaruhi ekspor sawit Indonesia.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad menyebutkan dari total ekspor sawit Indonesia, pasar Eropa memegang peranan sekitar 20%. Selain ke Eropa, produk sawit Indonesia juga diekspor ke China hingga India.

"Ekspor ke Uni Eropa itu sampai hari ini 20%. Kita ekspor lebih banyak ke China, India dan negara seperti Uzbekistan," kata Asmar dalam jumpa pers di Akmani Hotel, Jakarta Pusat, Jumat (26/1/2018).

Asmar mengatakan, pihaknya akan mencari pasar baru untuk memasarkan sawit Indonesia yang masih dikampanyekan hitam di Uni Eropa. Sehingga keberlanjutan sawit dalam negeri tidak terhenti.

"Kita cari pasar baru lah, Eropa mafia mereka bilang merusak lingkungan. Kita biodiesel 2010 sudah B5 dan sekarang B20 dan mereka khawatir," ujar Asmar.


Direktur Eksekutif Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Mahendra Siregar menambahkan, ekspor sawit ke Eropa sebesar 20% sekitar US$ 4 miliar. Angka ini dinilai tidak sebesar ekspor ke Eropa beberapa tahun yang lalu.

Dengan dijegalnya sawit Indonesia ke Eropa, kata Mahendra, juga akan mempengaruhi industri yang ada di Uni Eropa sendiri. Pasalnya, sawit menjadi salah satu bahan baku olahan industri di benua biru tersebut.

"Artinya produsen dan pemrosesan di Eropa nanti terpaksa harus direlokasi ke negara atau ke tempat yang membolehkan sawit masuk," kata Mahendra.

Mahendra menambahkan, konsumen sawit terbesar di dunia saat ini adalah India dan Indonesia. Selanjutnya disusul oleh Eropa, China dan Pakistan.

"Saat ini konsumen terbesar India. Indonesia sebagai negara konsumsi sawit lebih besar dari 28 negara Eropa digabung lalu ketiga Uni Eropa, baru China dan Pakistan yang masing-masingnya sepertiga dari seluruh konsumsi Eropa 28 negara," tutur Mahendra. (ara/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed