Follow detikFinance
Jumat, 02 Feb 2018 22:20 WIB

Kenapa RI Impor Garam Industri? Ini Kata Pemerintah

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Pemerintah rencananya akan impor 3,7 juta ton garam industri. Salah satunya karena kualitas garam di dalam negeri belum cukup memadai untuk dipasok ke industri.

"Standar yang dipakai oleh industri itu ternyata belum bisa dipenuhi oleh garam rakyat sehingga terpaksa industri harus impor," kata Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono, usai menghadiri Focus Group Discussion di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (2/2/2018).

Menurut Agung, ada pembicaraan garam rakyat bisa digunakan untuk kebutuhan beberapa sektor industri. Hal itu perlu dikaji. Jika benar ada maka bagus, sehingga kebutuhan impor bisa dikurangi. Namun kalau tidak jangan dipaksakan.


"Ya kalau bisa nanti kita minta untuk menyerap garam itu. Kalau tidak jangan dipaksa. Kalau industri menggunakan garam yang tidak sesuai dengan speknya, satu dia tidak akan bisa jual, kedua industrinya akan rusak," terang Agung.

Namun, tidak selamanya Indonesia terus bergantung dengan garam industri impor. Pemerintah sendiri telah berkomitmen swasembada garam pada 2020.


"Nah sekarang kita harus bekerja keras untuk mengangkat standar garam rakyat ini supaya bisa memenuhi garam yang bisa diperlukan oleh pengusaha. Kalau ini bisa enggak masalah," terang Agung.

Namun dia mengakui, untuk mencapai tahap itu tidak bisa instan. Butuh proses yang memakan waktu.

"Siapkan lahan garamnya saja sekarang baru clean and clear, baru ada beberapa ratus hektare yang produksi. Kita ingin terus berkembang dan semoga swasembada bisa. Tapi mulai dari garam aneka pangan dulu, yang bisa standarnya enggak terlalu tinggi," ujarnya.


Setelah itu baru ditingkatkan lagi secara bertahap. Habis itu bisa dilakukan langkah-langkah berikutnya.

"Setelah standarnya tinggi, kita bangun pabrik pengolahan, pencucian garam, kita undang investor untuk datang biar garam bisa jadi industri besar," jelasnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed