Follow detikFinance
Selasa 06 Feb 2018, 10:27 WIB

Target Ekspor Naik, Industri Siap Genjot Produksi

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Target Ekspor Naik, Industri Siap Genjot Produksi Foto: Dok. Sinarmas
Jakarta - Kementerian Perdagangan menaikkan target ekspor tahun ini menjadi 11% dari target tahun sebelumnya yang sebesar 5,6%. Hal ini dianggap sebagai tantangan sekaligus peluang dari pelaku usaha yang selama ini menghasilkan produksi berbasis ekspor.

Managing Director Sinar Mas, Saleh Husin mengatakan, ke depan pihaknya siap menggenjot produksi guna memperluas pasar dan ragam produk yang jadi komoditas ekspor.

"Langkah Pemerintah menaikkan target ekspor menjadi 11 persen dari realisasi tahun lalu adalah tantangan sekaligus peluang sangat baik bagi industri nasional yang selama ini berorientasi ekspor untuk memperluas pangsa pasar serta ragam produk yang ada. Dengan melakukannya secara terencana dan sinergis, kami yakin tujuan tadi dapat kita capai," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikFinance, Selasa (6/2/2018).

Di hadapan 45 orang Atase Perdagangan serta Kepala Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) Kementerian Perdagangan, Saleh Husin memaparkan terkait produk andalan kelapa sawit dan kertas Indonesia di lokasi pabrik PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (PT SMART Tbk) Marunda, Bekasi.

Saleh bilang, para diplomat atau atase perdagangan Indonesia di luar negeri akan menjadi garda terdepan upaya peningkatan ekspor Indonesia. Menurutnya, dalam lingkup pergaulan internasional, tak ada sebuah isu yang berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung, dan terkait, satu sama lain antara politik, ekonomi dan sosial serta budaya.

Indonesia sendiri merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar dunia dengan raihan devisa tahun lalu mencapai hampir 23 miliar dolar AS. Sedangkan nilai ekspor yang dibukukan industri pulp dan kertas tahun 2017 mencapai hampir US$ 6 miliar.

Sehingga kata dia, ekspor produk turunan kelapa sawit dan pulp serta kertas di negara tujuan pun lantas akan dibayangi tak saja oleh instrumen hambatan perdagangan, tapi juga isu lingkungan, keberlanjutan, hingga hak asasi manusia, termasuk kampanye hitam oleh organisasi masyarakat sipil, lembaga riset, maupun perusahaan kompetitor.

Padahal keseimbangan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, sekian lama telah menjadi landasan operasi sektor kelapa sawit, pulp dan kertas.

"Itu sebabnya sektor industri dan asosiasi memberikan dukungan penuh dengan membuka diri untuk saling bertukar pendapat, pengetahuan sekaligus pemahaman akan industri perkebunan kelapa sawit terintegrasi, hutan tanaman industri, juga pulp dan kertas. Karena sektor ini yang nanti akan di advokasi para diplomat kita di negara tempat mereka bertugas," papar Saleh.

Ia mencontohkan putusan World Trade Organization mencabut pengenaan bea masuk anti-dumping oleh Uni Eropa terhadap ekspor biodiesel Indonesia adalah contoh dari keberhasilan sinergi Pemerintah bersama sektor industri, juga asosiasi dan dukungan media.

Sementara pada waktu berbarengan, Indonesia masih menghadapi usulan Parlemen Uni Eropa yang berniat mengeluarkan biofuel berbasis minyak kelapa sawit.

"Ke depan diplomasi ekonomi sekaligus promosi perdagangan akan menjadi hal yang semakin sering kita praktikkan. Kita berkepentingan agar para diplomat Indonesia yang harus menjalankan peran tambahan layaknya marketing agent, berangkat bertugas dengan pemahaman yang memadai dan tepat," pungkasnya. (eds/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed