Follow detikFinance
Rabu 07 Feb 2018, 17:51 WIB

Biaya Produksi Industri Logam RI Lebih Tinggi dari Jepang dan Rusia

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Biaya Produksi Industri Logam RI Lebih Tinggi dari Jepang dan Rusia Foto: dok. PGN
Jakarta - Ketua Komite Tetap Industri Logam, Mesin dan Alat Transportasi Kadin, I Made Dana, menilai Indonesia berpeluang besar mengembangkan industri logam dasar, contohnya baja. Industri logam dasar diperkirakan masih akan tumbuh hingga 6% per tahun hingga 2025 mendatang.

"Hal itu lantaran permintaan bahan baku untuk sektor konstruksi yang tumbuh 8,5%, otomotif 9,5%," kata Made Dana di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (7/2/2018).

Namun, ada sejumlah tantangan dalam mendorong pertumbuhan industri logam lebih berkembang. Antara lain biaya produksi dan bahan baku yang masih harus diimpor.


Industri logam harus menanggung biaya produksi berupa harga gas alam yang tinggi mencapai US$ 9,5/MMBTU.

"Harga itu masih lebih tinggi dibanding Jepang dan Rusia yang hanya berkisar US$ 6,3 MMBTU, sama halnya dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN," kata dia.

Selain itu, Indonesia masih harus mengimpor baja sebanyak 5,4 juta ton/tahun untuk memenuhi kebutuhan 12,94 juta ton/tahun. Oleh sebab itu, dia meminta pemerintah melalui BUMN bisa membangun industri berbasis mineral logam.

"BUMN perlu bersatu dan hadir secara khusus untuk membangun industri logam dasar dan industri hilirnya," ujar Made Dana. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed