Follow detikFinance
Minggu, 18 Feb 2018 13:09 WIB

Alokasi Dana Sawit Dinilai Tak Tepat Sasaran

dna - detikFinance
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggenjot ekspor sepertinya belum bisa terealisasi dalam waktu dekat. Pasalnya, produktifitas minyak sawit atau crude palm oil (CPO) masih belum optimal. Padalah, CPO adalah salah satu komoditas ekspor andalan RI.

Hal itu setidaknya terlihat dari penggunaan dana sawit dari pungutan ekspor sawit yang masih didominasi pemanfaatannya untuk subsidi biodiesel. Sementara untuk penelitian dan pengembangan untuk peningkatan produksinya masih minim.

Menurut data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, dari penerimaan dana sawit sepanjang 2017 yang diprediksi mencapai Rp 10,3 triliun, sebesar 9,6 triliunnya dialokasikan untuk mendukung program B20.

B20 sendiri adalah program pengembangan biodiesel yang mengharuskan setiap liter solar yang dijual di dalam negeri, 20% harus mengandung biodiesel dari sawit.


Dana tersebut berdasarkan asumsi harga minyak mentah yaitu US$ 50-US$ 60/barel, CPO US$ 650-US$ 750/ton, sehingga subsidi per liter lebih kecil dari 2016 yang mencapai Rp 4.500-Rp 5.500/liter.

Sementara, alokasi untuk peremajaan kebun sawit hanya sebesar Rp 400 miliar, ditambah dengan dukungan untuk sarana dan prasarana pertanian Rp 160 miliar.

Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia Asep Komarudin mengatakan, seharusnya pengelolaan dana sawit yang jumlahnya sangat besar itu bisa digunakan untuk penelitian benih kelapa sawit yang punya produktifitas lebih tinggi dibanding yang ada saat ini.

"Saat ini, yang urgent sebenarnya adalah riset untuk peningkatan produksi per hektarnya," kata dia saat dihubungi detikFinance, Minggu (18/2/2018.


Pasalnya, selama ini, karena masih menggunakan benih konvensional, peningkatan produksi sawit masih mengandalkan perluasan lahan perkebunan.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian memperlihatkan bahwa luas areal perkebunan sawit terus meningkat. Tahun 2010 hanya seluas 8,3 juta hektar. Tahun 2017 diperkirakan mencapai 12,3 juta hektar. Ekspansi lahan sawit ini kerap merambah hutan lindung dan lahan gambut. Menurut Badan Restorasi Gambut, terdapat 327 perusahaan sawit yang beroperasi di lahan gambut.

"Kalau pemerintah fokus pada riset dan pengembangan, masalah lahan dan lingkungan itu harusnya tak ada lagi. Karena cukup menggunakan lahan eksisting, perkebunan sawit bisa menghasilkan produk CPO yang lebih besar dengan benih yang berkualitas tinggi," papar Asep.

Di sisi lain, menurutnya pemanfaatan dana sawit untuk rehabiltasi dan pemberdayaan petani mandiri harusnya juga mendapat perhatian sesuai dengan amanat aturan pemanfaatan dana sawit.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang diteken oleh Presiden Jokowi itu, diatur tentang penggunaan dana tersebut.

Pada Pasal 11 ayat (1) diSEBUTKAN, dana yang dihimpun adalah untuk pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan perkebunan sawit, promosi perkebunan kelapa sawit, peremajaan tanaman perkebunan, serta prasarana perkebunan sawit.

Sedangkan pada ayat (2) dijelaskan bahwa penggunaan dana itu juga dipakai untuk kebutuhan pangan, hilirisasi industri dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel.

"Harusnya, dana sawit itu alokasinya cukup besar untuk small holder (petani mandiri). Karena memang salah satu tujuan awalnya kan untuk untuk pemberdayaan petani. Tapi nyatanya sekarang yang small holder sulit mengakses karena banyak persyaratan," sebut dia.

"Harusnya kalau pemerintah serius mengejar peningkatan ekspor, rehabilitasi lahan dan pemberdayaan small holder ini mendapat perhatian. Karena mereka juga ujung tombak produksi," tandas dia.

Di tahun 2018, sebenarnya pemerintah sudah meningkatkan alokasi dana untuk rehabilitasi perkebunan sawit dan pemberdayaan petani menjadi Rp 5 triliun yang bersumber dari dana BPDB Kelapa Sawit. Namun langkah tersebut baru bisa dirasakan dampaknya pada tahun depan dengan mempertimbangkan masa tanam hingga panen. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed