Follow detikFinance
Rabu, 21 Feb 2018 17:37 WIB

Butuh Campur Tangan Pemerintah Atur Harga Gas Industri

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Harga gas yang tinggi masih menjadi keluhan kalangan pelaku industri. Terutama dari kalangan industri yang sebagian besar kegiatan produksinya menggunakan gas.

"Contoh, industri pupuk saja yang sudah dikasih harga US$ 6 per MMBTU masih belum cukup. Idealnya harga gas bumi untuk industri sekitar US$ 3,5 atau US$ 4 per MMBTU, baru perusahaan industri bisa untung," kata Suhat Miyarso, Executive Director Federasi Industri Kimia Indonesia (FIKI) dalam keterangan tertulis, Rabu (21/2/2018).

Ia mengatakan, tanpa campur tangan pemerintah dalam penentuan harga gas bumi, industri nasional tidak bisa maju. Dukungan dan keberpihakan pemerintah tersebut tidak bisa hanya wacana tapi harus kongkrit agar industri nasional dapat meningkatkan daya saing dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun sebagai pembayar pajak.

Dikatakan, pemanfaatan gas bumi dalam industri kimia, baik sebagai bahan baku maupun energi dalam industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, semen, logam, glassware hingga sarung tangan karet sangat vital.

Gas bumi adalah salah satu komponen biaya produksi yang penting sehingga harganya tidak bisa dilepas di pasar. Jika harga gas bumi diserahkan pada mekanisme pasar, sektor industri nasional akan kesulitan dalam meningkatkan daya saingnya dan kalah bersaing dengan negara-negara lain di ASEAN.

"Harus ada campur tangan pemerintah dalam penetapan harga gas bumi supaya industri bisa membayar harga yang ditawarkan kepadanya. Karena affordable, terjangkau," sebut dia.

Dikatakan, untuk meningkatkan daya saing industri kimia, seharusnya pemerintah sungguh-sungguh menjalankan amanat UU Perindustrian No. 3/2014 dan Perpres No. 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Seperti diketahui saat ini baru industri pupuk dan baja yang mendapat harga US$ 6 per MMBTU sesuai Perpres No.40/2016. Sedangkan industri lainnya seperti industri petrokimia, industri semen, industri keramik, kaca, glassware, logam dan sarung tangan karet masih membeli gas bumi dengan harga bervariasi antara US$ 9 sampai US$ 10 per MMBTU.

Dikatakan, dengan harga gas bumi yang masih tinggi, maka industri nasional kesulitan bersaing dengan industri sejenis dari negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Pasalnya, industri di negara-negara ASEAN tersebut bisa memperoleh harga gas bumi yang kompetitif, yakni sekitar US$ 4 hingga US$ 5 per MMBTU.

Untuk itu, Suhar dan para pengusaha kimia mengimbau pemerintah untuk secepatnya menurunkan harga gas seusai perintah Perpres No. 40/2016. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed