Revolusi Industri 4.0 Peluang atau Ancaman? Ini Kata Jokowi

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 04 Apr 2018 11:27 WIB
Foto: Dok. Sekretariat Kabinet/Biro Pers Setpres
Jakarta - Pemerintah telah menyiapkan roadmap revolusi industri 4.0 atau jilid empat. Peta jalan industri 4.0 untuk menuju ekonomi digital, di mana teknologi sudah berkembang pesat dan diharapkan mampu mendukung perekonomian.

Berdasarkan analisa Mckinsey Global Institue, industri 4.0 memberikan dampak yang sangat besar dan luas, terutama pada sektor lapangan kerja. Di mana robot dan mesin akan menghilangkan banyak lapangan kerja di dunia.

Jadi industri 4.0 peluang atau ancaman?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai revolusi industri 4.0 bisa menjadi peluang maupun menjadi ancaman.

"Apakah revolusi industri ini sebuah peluang besar? Jawaban saya, iya. Kalau kita mempersiapkan, merencanakan, dan bisa mengantisipasi ini. Apakan revolusi 4.0 ini sebuah ancaman? Menurut saya jawabannya, iya dan tidak. Bisa iya bisa tidak, tergantung kita," kata Jokowi di JCC Senayan, Rabu (4/4/2018).


Jokowi mengungkapkan, revolusi industri 4.0 itu arahnya digitalisasi. Dia mencontohkan seperti kombinasi cloud computing dengan mobile internet yang dimanfaatkan oleh sistem smartphone. Selanjutnya, artifisial intelijen, mesin cerdas, lalu internet of things (IOT) di mana mesin-mesin juga terkoneksi dengan internet.

"Teknologi-teknologi ini cloud computing mobile internet dan mesin cerdas, artifisial intelijen kemudian digabung menjadi generasi baru robotik seperti pesawat drone, autonomous vehicle atau kendaraan otonom yang bisa mengendarai diri sendiri tanpa dikendarai manusia," tambah dia.

Mantan Wali Kota Solo ini menyebutkan belum lama ini pemerintahan Dubai telah mengumumkan bakal memanfaatkan teknologi robot di bidang konstruksi.

"Pemerintah Dubai di tahun lalu juga sudah mengumumkan niatnya untuk 25% dari semua bangunan baru di Dubai yang kita baca dalam 20 tahun ke depan akan memakai teknologi 3D printing, guna mempercepat proses-proses konstruksi. Perubahan-perubahan seperti ini yang kita harus mengerti kita harus paham dan kita harus bisa mengantisipasi," jelas dia.



Perkembangan yang serupa juga sudah mulai diadopsi oleh beberapa negara tetangganya Indonesia. Seperti Singapura yang memiliki robot pembersih karpet, secara tidak disadari menggantikan tukang sapu.

"Beberapa hotel di Singapura sudah mulai bereksperimentasi dengan jasa-jasa tertentu yang dilayani oleh robot, hati-hati. Seperti mengantarkan makanan atau room service ke kamar tamu menggunakan robot yang juga berkeliling secara otonom. Bayangkan kalau ini menggejala, tidak hanya di airport, tidaknya di hotel tadi, di semua tempat," kata Jokowi.

Oleh sebab itu, Jokowi mendukung langkah Kementerian Perindustrian yang sigap dan serius mengantisipasi revolusi industri 4.0 dengan peta jalan yang dikenal Making Indonesia 4.0.

Menurut Jokowi, peta jalan ini bisa diartikan membuat, membangun, mewujudkan kembali industri nasional di era yang baru, yaitu Indonesia 4.0 di dalamnya terdapat beberapa aspirasi besar untuk merevitalisasi industri Indonesia secara menyeluruh.

Diharapkan juga saat implementasinya bisa menjadikan ekonomi Indonesia menjadi 10 besar di 2030 melalui peningkatan angka ekspor, peningkatan produktivitas industri dengan mengadopsi teknologi dan inovasi yang mampu menciptakan 10 juta lapangan kerja baru di 2030.

"Tentu hal ini akan menjadi suatu landasan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Selain menciptakan lapangan kerja baru, implementasi industri 4.0 di Indonesia harus memastikan pertumbuhan secara inklusif pertumbuhan yang juga melibatkan seluruh lapisan ekonomi masyarakat, tidak hanya perusahaan besar namun juga usaha mikro kecil dan menengah UMKM," tutup dia. (zlf/zlf)