Follow detikFinance
Selasa, 17 Apr 2018 07:17 WIB

Minimarket di Pesantren Namanya Ummart

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta - Di tengah isu lesunya sektor ritel dengan banyaknya ritel-ritel besar yang berguguran, pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) justru melihat peluang usaha baru. Hal ini ditandai dengan bakal dibuatnya toko ritel di pesantren yang mengambil nama Umat Mart atau Ummart.

Rencananya, 12 Mei mendatang akan ada 10 Ummart yang sudah dibangun dari total target pembangunan 1.000 Ummart di tahun ini. Jadi, bagaimana kriteria agar pesantren bisa punya toko ritel Ummart?

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia menjelaskan ada beberapa kriteria agar pesantren bisa memiliki fasilitas Ummart, salah satu di antaranya yaitu pondok pesantren harus memiliki lokasi strategis yang artinya tidak terlalu jauh dari pemukiman. Selain itu, jumlah santri yang ada di pondok pesantren yaitu harus lebih dari 1.000 orang.

"Ada kriterianya, seperti lokasinya, jumlah santrinya. Jumlah santrinya sekitar 1.000," kata dia kepada detikFinance, Jakarta, Senin (16/4/2018).

Pemilihan lokasi juga tidak semata-mata berdasarkan kriteria jumlah saja. Namun, juga ada kajian dan pertimbangan lain yang dilakukan HIPMI agar Ummart bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien bagi para santri.

"Kriterianya umum, memenuhi standar FS bisnis, harus memenuhi standar feasibility study (FS). Contoh santrinya harus cukup masuk dalam kategori kami. Fokusnya di Jawa BPC lakukan pendataan kepada pensantren dan verifikasi dan mana yang bisa mana yang nggak . Di Jatim saja ada 13.500 ponpes dari jumlah itu kan tidak semua memenuhi syarat, jumlah santrinya, lokasinya," kata dia.

Bagi pondok pesantren yang tertarik untuk dibina dan memiliki Ummart bisa mengunjungi kantor Hipmi di berbagai kota di Indonesia.

"Tinggal datang aja ke kantor HIPMI di daerah-daerah kan sudah ada," papar dia

Sebagai informasi, konsep Ummart ini berawal dari pelatihan kewirausahaan yang dilakukan HIPMI pada para mahasiswa dan siswa SMK melalui HIPMI Goes to Campus dan Goes to School di 2015. Kemudian di tahun 2018 HIPMI berusaha mewadahi kebutuhan praktik bisnis dari para santri di Pulau Jawa untuk belajar bisnis tanpa menganggu pendalaman ilmu agama dengan dengan skema ritel modern yang ditempatkan di pondok pesantren.

Bahlil menjelaskan, produk hasil program HIPMI Goes to Pesantren nantinya akan dibentuk PT dari pihak HIPMI yang akan mengelola secara profesional Ummart sebagai jaringan bisnis dan juga inkubasi dari pelatihan wirausaha para santri.


Kerja sama yang dilakukan oleh HIPMI dengan pondok pesantren yaitu membantu untuk membuat manajemen yang profesional mengenai pengadaan ritel modern berbasis koperasi di Ummart. HIPMI juga akan membantu melancarkan permodalan melalui bank.

"Kalau soal itu (permodalan melalui perbankan) bisa nanti (sambil jalan)," kata dia.

Sebagai informasi sebelumnya ide ini telah disambut baik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan memberikan arahan kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag), HIPMI, dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam pembangunan ritel modern di pesantren.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kerja sama dua asosiasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan ekonomi umat. Untuk tahap awal akan ada 10 toko ritel yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Mei 2018.

Enggar mengatakan, 10 ritel yang akan diresmikan itu terletak di Jawa Timur. Dua di antaranya berada di Pasuruan dan secara simbolis ada delapan yang akan diresmikan melalui video conference.

Sementara itu, pembangunan tidak akan berhenti di 10 ritel saja tapi diharapkan ada di ribuan di pesantren yang tersebar di Indonesia.

Santri Bisa Dakwah Sambil Dagang

HIPMI juga mewadahi kebutuhan praktik bisnis dari para santri di Pulau Jawa untuk belajar bisnis tanpa mengganggu pendalaman ilmu agama. Dengan skema ritel modern yang ditempatkan di pondok pesantren, para santri bisa melakukan dua tersebut hal sekaligus.

"Di tahun 2018 ini kita punya program HIPMI go to pesantren, ini kita lakukan karena sudah selesai (program) di perguruan tinggi dan sekolah kini masuk ke pesantren. Kita punya bayangan pesantren punya wadah mulai untuk belajar ilmu agama sampai bisnis. Dari program Hipmi goes to pesantren kita punya produk program namanya Ummart," jelas Bahlil.

Umat Mart juga menggandeng ritel modern lainnya, seperti Indomaret dan juga Alfamart. Dengan adanya Umat Mart, waktu belajar santri dan bisnis bisa beriringan.

"Ummart ini yang langkah awalnya ini basisnya di pesantren. Para santri yang butuh belanja sabun segala macam ini jadikan toko kios, yang dikelola secara profesional. Kita gandeng Indomaret (dan) Alfamart. Harapan kita selain melakukan aktivitas bisnis menjadi manajemen yang baik harapan kita santri ini bisa dakwah sambil dagang," ungkap dia.

Kerja sama yang dilakukan oleh HIPMI dengan pondok pesantren yaitu membantu untuk membuat manajemen yang profesional mengenai pengadaan ritel modern berbasis koperasi di Umat Mart. Selain itu, HIPMI juga membantu melancarkan permodalan melalui sistem perbankan.

"Kalau soal itu (permodalan melalui perbankan) bisa nanti (sambil jalan)," kata dia. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed