Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 06 Mei 2018 19:09 WIB

Jumlah Pabrik Rokok Berkurang, Karena Cukai Naik?

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Lesunya industri rokok tak hanya dirasakan di pasar saham. Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi dari 600, saat ini hanya 100 pabrik saja yang masih aktif berproduksi. Apa penyebabnya?

Ketua GAPPRI Ismanu Soemiran mengatakan, pasca penerapan kenaikan tarif cukai yang rata-rata 10,04% mulai awal 2018 ini, kinerja industri rokok semakin terpuruk.

"Pemerintah perlu melihat industri kami satu semester ini bisa turun 1%, karena pasar yang melemah dan harga rokok sudah terlalu tinggi. Harga rokok sudah sampai titik kulminasi. Kalau pemerintah terus naikkan lagi, secara kuantitas akan turun," kata Soemiran ketika dihubungi, Minggu (6/5/2018).


Saat ini, dia mengatakan, jumlah produksi rokok per batang telah mengalami penurunan. Namun ia tidak merinci besarannya. Hal ini, kata dia, dikarenakan tarif cukai yang naik sehingga harga rokok pun ikut meroket.

"Jadi pendapatan tetap tidak dapat dibandingkan dengan produksi," jelasnya.


Dengan demikian, menurut Soemiran, menaikkan tarif cukai lebih tinggi dari 2018 bukanlah kebijakan yang tepat. Pemerintah, dia melanjutkan, harus membuat kebijakan yang kondusif.

"Keberpihakan terhadap pabrikan menengah kecil perlu diperhatikan, sehingga mereka mampu menggenjot jumlah produksi untuk mengisi kekosongan," ujarnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed