Follow detikFinance
Kamis, 07 Jun 2018 15:50 WIB

Hadapi Revolusi Industri, JK Sebut Pemimpin Harus Paham Teknologi

Rina Atriana - detikFinance
Foto: Noval Dhwinuari/detikcom Foto: Noval Dhwinuari/detikcom
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berpandangan, dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan strategi Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Presiden pada bulan April lalu, diperlukan pemimpin Indonesia yang memahami data, teknologi dan manusia, serta pendekatan yang kolektif dan kolaboratif.

"Revolusi mental akan terus dijalankan untuk mengubah mindset negatif serta ketakutan terhadap revolusi industri 4.0," tegas Jusuf Kala saat membuka seminar revolusi mental 'Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia' di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2018).

Hal serupa disampaikan Menteri Riset dan pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Menurutnya, perubahan sudut pandang soal revolusi industri harus dimuali sejak pendidikan tinggi.

"Menyediakan sumber daya manusia yang unggul dan menciptakan inovasi adalah hal terpenting dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Mutu pendidikan tinggi juga harus ditingkatkan," tambah dia.


Program peningkatan kapasitas kepemimpinan, diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan beberapa pembelajaran, diskusi, dan pertemuan terkait Metodologi Systems Thinking dan U-Theory, dan diterapkan di masing-masing organisasi sesuai konteks Indonesia maupun konteks isu prioritas dan daerah.

Metode pelatihan yang dilaksanakan bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi diharapkan dapat menghasilkan suatu perubahan mind-set dan transformasi di tingkat individu, organisasi, maupun sistem secara luas.

"Revolusi mental untuk membentuk karakter kepemimpinan yang kuat tidak hanya diberikan dengan mengajarkan sifat-sifat mental yang baik, tetapi juga dengan menempatkan diri pemimpin dalam posisi dapat mendengar, merasakan, membuka pemikiran dan dapat mendorong aksi kolektif yang lebih bermakna," ucapKetua Lemhanas Agus Widjojo.

Esensi dari proses transformasi tersebut terdiri dari tiga tahap: pertama membuka pemikiran dan wawasan peserta (merubah asumsi yang selama ini menjadi pegangan), membuka hati (benar-benar mendengar dari semua pihak dan membuka diri agar bisa lebih empati), dan membuka kemauan untuk bertindak secara kolektif agar terjadi transformasi.


Untuk hal terakhir perlu dibangun keinginan dan kemampuan untuk membangun hubungan lintas sektor yang didasarkan pada rasa saling percaya sehingga memungkinkan terciptanya kolaborasi dan sinergi untuk mencari solusi dan aksi kolektif untuk mempersiapkan organisasi agar dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia.

"Metode pembelajaran sangat fleksibel sehingga bisa diterapkan pada sektor atau fokus isu apapun karena substansi pembelajaran dalam program ini adalah mengajak peserta untuk berpikir terbuka, hadir utuh dan sadar penuh dalam setiap kegiatan yang dilakukan, dan sebagai pemimpin harus rajin sensing atau blusukan sehingga peka terhadap isu ril di lapangan," sambung Ketua Yayasan Upaya Indonesia Damai Mari Elka Pangestu. (rna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed