Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Jun 2018 14:55 WIB

Penjualan Kendor, Starbucks Akan Tutup 150 Gerai

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: REUTERS/Mark Makela Foto: REUTERS/Mark Makela
Jakarta - Gerai kopi kenamaan Starbucks tahun ini berencana menutup sekitar 150 gerai di Amerika Serikat (AS). Penutupan dilakukan karena mulai kendornya penjualan di gerai-gerai toko ritel penyedia kopi tersebut.

Mengutip Reuters, perusahaan kopi terbesar di dunia itu saat ini sedang terhimpit persaingan baik dari kedai kopi lain maupun jaringan ritel makanan cepat saji yang juga menjual kopi dengan harga lebih murah. Seperti McDonald's dan Dunkin Donuts.

Sejumlah analis memperkirakan toko masih bisa menjual dan mengantongi pendapatan yang sama di AS. Namun perkiraan tersebut meleset selama enam kuartal terakhir.


Untuk bertahan, perusahaan akan mengkalkulasi jika akan mendirikan gerai baru dengan biaya yang lebih rendah demi kondisi keuangan yang lebih sehat pada 2019 mendatang.

Selain itu, saat ini minat konsumen untuk food and beverage memang lebih cepat berubah. Karena itu, gerai akan memperkenalkan minuman dingin dengan menu baru seperti sari buah naga dan mangga. Minuman ini untuk mengakomodir tren kesehatan dan kebugaran yang semakin meningkat.

Kepala Eksekutif dan Founder Starbucks Howard Schultz mengungkapkan ia bersama Chief Executive Kevin Johnson berusaha memperbaiki citra perusahaan pasca insiden rasis yang melibatkan penangkapan dua pria kulit hitam di sebuah gerai Starbucks di Philadelphia.

Johnson memperkirakan, penjualan di seluruh gerai di dunia masih naik meski hanya 1% pada kuartal ketiga jauh di bawah perkiraan analis yang sebesar 3%. "Itu hanya sementara, kami juga ada peningkatan biaya karena kami meningkatkan investasi. Memang kinerja kami beberapa waktu terakhir tidak sesuai dengan target," ujar dia. Tahun lalu, sebanyak 50 gerai di Seattle juga telah ditutup.

Namun, Starbucks juga akan mencoba rencana baru seperti opsi lisensi toko namun tetap dioperasikan perusahaan. China merupakan salah satu negara yang menjadi motor penggerak bisnis Starbucks, di China penjualan naik sebanyak 4%. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed