Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 19 Jul 2018 14:04 WIB

Nostalgia Merpati Airlines, dari Masa Emas hingga Mati Suri

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Penyelamatan maskapai PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) terus diupayakan hingga saat ini. Maskapai pelat merah ini tengah diupayakan kembali bangkit dari mati suri. Namun patut diketahui, maskapai ini sempat mengalami masa jaya di era 1990-an.

Dari catatan detikFinance, PT Merpati Nusantara Airlines pernah dalam masa kejayaan di 1989-1992. Saat itu, Merpati memiliki sekitar 100 armada. Merpati memiliki berbagai tipe pesawat, mulai jet hingga pesawat baling-baling berukuran kecil.

Di masa keemasan itu, Merpati dipimpin oleh Direktur Utama Capt FH Sumolang. Di bawah kepemimpinan Sumolang, Merpati mulai masuk ke era pesawat jet seperti Fokker-28, Fokker-28, dan DC-9.

"Jumlah pesawat 100. Era jet itu di Sumolang. Ada Fokker 28 dan DC9," kata Dewan Penasehat Forum Pegawai Merpati (FPM) I Wayan Suarna di Jakarta, Rabu (5/2/2014).


Nostalgia Merpati Airlines, dari Masa Emas hingga Mati SuriFoto: dokumentasi Merpati Nusantara Airlines

Selain itu, kinerja Merpati diperkuat dengan sinergi bersama Garuda Indonesia. Merpati bertugas sebagai feeder Garuda Indonesia untuk melayani penerbangan hingga pelosok negeri.

Pada periode 1989-1992 kesejahteraan karyawan Merpati sangat tinggi. Bahkan tertinggi di lingkungan BUMN mengalahkan PT Pertamina (Persero).

"Saya waktu tahun 1989 gajinya Rp 150 ribu. Beberapa bulan setelah Pak Sumolang masuk, dinaikkan 3 kali lipat ke Rp 500 ribu. Pertamina pun kalah," kata Dewan Penasehat Forum Pegawai Merpati (FPM) I Wayan Suarna.

Maskapai ini juga tidak hanya jago kandang, Merpati juga melayani penerbangan internasional. BUMN ini pernah menerbangi hingga ke Amerika Serikat (AS) dan Australia. Untuk AS, Merpati sempat melayani rute Biak-Honolulu-Los Angeles.

"Merpati di masa lalu sudah pernah terbangkan ke Biak-Honolulu-Los Angeles, terus pernah ke Jeddah dan Australia," kata Direktur Utama Merpati Capt Asep Ekanugraha di rumah makan kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2014).

Namun seiring berjalannya waktu dan ketika Garuda menghentikan kerjasama setelah Sumolong tidak lagi menjabat Dirut, kinerja keuangan Merpati semakin memburuk mulai 1993.

Karyawan Merpati Demo di DPRKaryawan Merpati Demo di DPR Foto: Grandyos Zafna

Direksi-direksi pun silih berganti mengisi kursi 'panas' Dirut Merpati, namun maskapai ini tidak kunjung membaik. Hingga pada puncaknya Februari 2014. Di bawah Dirut Capt Asep Ekanugraha armada Merpati tersisa 18 unit. Itupun bukan masuk katagori pesawat baru, seperti: Boeing 737-500, Boeing 737-400, Boeing 737-200, MA 60, Cassa 212, dan Twin Otter.

"Pesawat aktif ada 18 unit. Ada Boeing 737 series ada 5 unit, MA 60 ada 10 unit, Twin Otter ada 2 unit, dan Cassa ada 1 unit," kata VP Corporate Secretary Merpati Riswanto waktu itu.


Masalah tak berhenti di situ, Merpati berhenti beroperasi melayani rute-rute di tanah air dan internasional. Penghentian penerbangan Merpati karena perseroan mengalami kesulitan keuangan dan sedang menjalani program restrukturisasi. Belum lagi utang avtur ke Pertamina sudah cukup besar. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com