Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 21 Agu 2018 15:30 WIB

Mengintip Produksi Kopi Arjasari Bandung yang Dijual ke Starbucks

Wisma Putra - detikFinance
Foto: Wisma Putra/detikcom Foto: Wisma Putra/detikcom
Bandung - Jarum jam menunjukkan Pukul 08.00 WIB, beberapa perempuan paruh baya di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung bergegas ke gudang kopi milik Ade Suryana (50). Mereka mayoritas adalah ibu rumah tangga.

Kedatangan mereka ke gudang kopi yang berada di Desa Arjasari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung untuk bekerja sebagai buruh penyortir kopi.

Tanpa menunggu lama, mereka langsung duduk lesehan beralaskan terpal plastik untuk menyortir kopi. Dengan cekatan, butir demi butir biji kopi dipisahkan untuk dibedakan ukurannya dan dimasukkan ke dalam tiga karung plastik berbeda. Kopi yang disortir merupakan kopi berjenis arabika dan robusta yang telah dilakukan proses penjemuran terlebih dahulu.

Produksi kopi Arjasari di BandungProduksi kopi Arjasari di Bandung Foto: Wisma Putra/detikcom



Kopi-kopi yang disortir tersebut dibeli Ade dari sejumlah petani kopi yang ada di empat desa yang berada di Kecamatan Arjasari dan Ciparay.

"Kopi di sini dijual ke Starbucks atau ke kafe-kafe kecil. Para pembeli datang langsung membeli kopi ke sini," kata Ade kepada detikcom, Senin (20/8) kemarin.

Dalam sehari, Ade dapat menampung 6 ton kopi dalam bentuk gelondong atau cerry dari sejumlah petani, yang dibeli seharga Rp 10.000. Selain itu ada juga pembeli kopi dari Medan dan Aceh membeli kopi dari Ade dengan jumlah banyak.

Produksi kopi Arjasari di BandungProduksi kopi Arjasari di Bandung Foto: Wisma Putra/detikcom



Menurut Ade pesanan dari Medan atau Aceh paling minim 2 ton, Kalau dari kafe-kafe paling 10 kg. Untuk jenis kopi arabika, yang sudah menjadi beras dijual Ade dengan harga bervariatif tergantung banyak dan sedikitnya penjualan kopi itu sendiri. Partai kecil Rp 120.000/kilogram (kg), partai besar Rp 80 ribu/kg.

Peluang bisnis kopi

Ade menjelaskan seiring tenarnya kopi, peluang bisnisnya makin besar. Ade berujar di wilayah Arjasari kini banyak para petani yang alih komoditi menjadi petani kopi. Hal tersebut ditunjang dengan program penghijauan dari pemerintah dan masyarakat diizinkan menggunakan lahan Perhutani untuk bertani kopi.

"Keuntungan petani besar, yang tidak memiliki lahan diberi pinjam lahan di hutan. Manfaat untuk masyarakat, yang tadinya erosi karena banyaknya menanam kopi hutan jadi hijau, biasanya dirambah oleh orang yang tidak bertanggungjawab dengan adanya petani kopi seolah-olah hutan ada yang menunggu," kata Ade.

Produksi kopi Arjasari di BandungProduksi kopi Arjasari di Bandung Foto: Wisma Putra/detikcom



Kopi juga saat ini telah membantu perekonomian masyarakat sekitar. Menurutnya ada sekitar 400 orang warga menjadi petani kopi di empat desa dan kesejahteraannya pun menjadi lebih baik.

"Misalkan yang sudah berlangganan ke sini (bilang), pak saya menanam kopi asalnya enggak punya rumah menjadi punya rumah, punya motor, nambah luas tanah," kata Ade menirukan perkataan warga.


Selain dapat meningkatkan kesejahteraan para petani. Kopi juga memberikan dampak positif bagi penghijauan hutan. "Hutan kan kalau sebelum musim hujan erosi, banjir. Kalau sekarang sudah mengurang, dampaknya bagus. Cuaca, tidak terlalu gersang. Sebelum ada petani kopi banyak perambah hutan, yang merusak hutan, sekarang ada yang nunggu hutannya," imbuhnya.

Ade menambahkan, kopi Arjasari memiliki citarasa tersendiri. Hal itu dibenarkan dari cara pengolahan kopi itu sejak di tanam. Menurutnya, kopi yang memiliki kualitas tinggi berada di atas ketinggian 1000 Mdpl, bila kurang dari itu maka akan tidak akan masuk pada pasar ekspor.

"Pembeda, di olahan. Kalau orang ekspor maunya di atas ketinggian di atas 1000 Mdpl, di sini sudah di atas 1000 Mdpl. Siap ekspor dan disini juga sudah berjalan, cuman tidak langsung. Orang yang ngambil ke sini ada yang ke Starbucks Amerika, Korea juga," tambahnya.



Tantangan saat ini kualitas kopi Kabupaten Bandung tidak dibarengi produktivitas. Kondisi ini dipicu beberapa faktor banyak faktor.

"Selain hama dan penyakit, yang krusial itu dari aspek budaya. Masyarakat sekarang beralih ke kopi, tapi dulunya mereka menanam horti," terang Tisna Umbaran, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung kepada detikcom di kantornya, Senin (20/8).

Tisna mengatakan kopi Kabupaten Bandung juga belum bisa diekspor mandiri, masih 'numpang' ke pedagang dari Lampung, Medan dan Surabaya yang ada di Bandung.

"Kelemahan yang tadi, dari aspek budaya dan branding. Kalau memperkenalkan sudah seperti kemarin ke Amerika, tapi masih banyak pekerjaan kita," jelasnya.


Yang jelas beberapa tahun terakhir ini, kopi mulai booming di Kabupaten Bandung. Ini terlihat dari tumbuhnya kafe maupun kedai kopi di Kabupaten Bandung, salah satunya di Soreang.

Di Soreang ada lebih dari 10 kedai kopi yang menjajakan Kopi-kopi asli Kabupaten Bandung.

"Sekarang tren di kota-kota besar, kopi sudah menjadi gaya hidup anak-anak muda. Jadi mereka menghabiskan waktu di kedai-kedai kopi, saya kira itu hal positif, dibandingkan dengan mabuk lebih baik menikmati kopi," kata Tisna. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com