Follow detikFinance
Jumat, 14 Sep 2018 11:27 WIB

Dolar AS Perkasa, Bagaimana dengan Produksi Krakatau Steel?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Krakatau Steel (istimewa) Foto: Krakatau Steel (istimewa)
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah belakangan ini menguat. Dolar AS berada di level Rp 14.700-14.800.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengungkapkan penguatan dolar AS belakangan ini mempengaruhi kinerja perseroan. Namun, hal tersebut bisa diatasi.

"Kalau bicara pengaruh nilai tukar pasti ada pengaruh. Cuma kan kita mesti bisa juga mengimbangi atau mensiasati, memitigasi risiko nilai tukar sekecil mungkin," kata Silmy saat berbincang kepada detikFinance di kantornya, Jakarta Selatan awal pekan ini.

Mengurangi kerugian akibat nilai tukar, kata Silmy, dilakukan dengan menggenjot ekspor. Penjualan ekspor yang menggunakan dolar AS bisa menambah pendapatan perseroan.


"Contohnya misalnya ekspor, itu kan juga bagian dari kita memitigasi bukan hanya pendapatan rupiah aja, tapi dolar AS perhatikan," ujar Silmy.

Di sisi lain, perseroan masih mencukupi kebutuhan bahan baku produksinya dari negara lain, misalnya bijih besi.

"Kita kan iron ore, bijih besi itu kan memang di kita tidak terlalu banyak, di Indonesia tidak terlalu banyak," tutur Silmy.




Gaya Hidup Syahrini Tetap Aman Meski Dolar AS Naik, tonton videonya di sini:

[Gambas:Video 20detik]

(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed