Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Sep 2018 14:09 WIB

RI Hanya Dapat Area Pameran 500 Meter di Shanghai, Ini Alasannya

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom
Tangerang - Rencananya Indonesia akan melakukan pameran China International Import Expo 2018, di Shanghai. Namun, dari 1.000 meter persegi area yang di booking, Indonesia hanya mendapat luas area pameran 500 meter.

Mengenai hal tersebut Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menjelaskan, Indonesia masih beruntung karena masih memiliki lahan yang cukup luas,

"Shanghai ekspo sudah booking 1.000 meter itu teman-teman dari dunia usaha udah booking 459 meter. Kita ditawarkan country of owner dengan negara lainnya dan salah satunya diminta untuk membangun country of owner paviliun 256 meter. Di dalam perjalanannya minat negara ternyata ada banyak. Ada sekitar 120 negara partisipasi ini adalah pameran impor terbesar yang dilaksanakan China," jelas dia saat ditanya detikFinance di press conference persiapan acara Indonesia Trade Expo di ICE BSD, Rabu (19/9/2018).
Namun, dari proses booking tersebut ternyata China meminta data lebih menyeluruh soal 1.000 meter ruangan itu akan digunakan oleh siapa saja, perusahaan apa dan apa yang akan di tampilkan. China menginginkan data yang lebih lengkap, sementara langkah tersebut perlu waktu beriringan dengan hal tersebut, berbagai negara lain berlomba- lomba untuk segera memberikan data mengenai perusahaan- perusahaan yang akan melakukan pameran.

"China internasional import Expo dia mengundang seluruh dunia untuk menampilkan produk dunia. Ini pertama kali diselenggarakan oleh pemerintah China dan minatnya luar biasa. Negara lain udah booking dulu, ketika kita daftar. China ingin ketika kita daftar 1000 itu nama perusahaannya apa aja dan itu sangat rumit," jelas dia.

Dalam perjalanannya beberapa negara lain juga mengalami hal serupa seperti Indonesia. Seperti Jepang yang hanya mendapat lahan di bawah 1.000 meter. Vietnam 200 meter sampai India yang hanya mendapat tempat 1 booth.

"Nah dalam perjalanan waktu bahkan Jepang saja dari booking 10.000 dia dapat final di bawah 1.000. Mirisnya India yang booking 1.000 dapatnya 1 booth. Demikian juga Vietnam yang booking 1.000 persegi dapatnya di bawah 200 meter. Ini orang berebut untuk melakukannya," jelas dia.
Dari perjalanan dalam proses booking tempat pameran, akhirnya Indonesia hanya mendapat 280 meter untuk pameran dan 265 meter untuk lahan country owner.

"1.000 ini tidak diiyakan saja mereka ingin bukti siapa saja yang ikut. Ternyata dari kita booking 1.000 itu. 1.000 itu buat semuanya termasuk lahan independen 256 meter sisanya 280 kita pameran. Pada saat itu pengusaha yang terdaftar 249 meter persegi dan kita sudah bayar penuh 1.000 kita bayar US$ 97.200 dan dikembalikan lagi," kata dia.

Arlinda mengaku akhirnya Indonesia hanya mendapat lahan 540 meter persegi yang dibagi dalam dua lahan yaitu lahan booth khusus Indonesia dan lahan pameran. Dari lahan pameran yang disediakan Indonesia hanya mendapat lahan di sektor makanan dan pertanian.

"Kita dapat di area zona food and agriculture. Kalau dibandingkan negara lain kita dapat 256 plus 280 meter," sambung dia.

Pemerintah Indonesia kata Arlinda cukup kuat untuk mendapatkan lahan tersebut. Ia juga menjelaskan China merupakan salah satu pasar Indonesia yang paling besar.

"Perdagangan kita dengan China US$ 58 miliar. Impor kita ke China US$ 32 miliar. Rencananya kan acara ini akan dilakukan setiap tahun, dan diharapkan tahun depan kita akan ikutan lagi dengan para pengusaha yang tahun ini nggak bisa ikut," kata dia.



Saksikan juga video 'Produk Pameran Indonesia di Washington Laris-Manis':

[Gambas:Video 20detik]

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com