Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 07 Nov 2018 14:29 WIB

Belum Diproduksi, Motor Listrik Buatan ITS Sudah Dipesan 30.000 Unit

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Presiden Jokowi menjajal motor listrik, Gesits. (Andhika-detikcom) Foto: Presiden Jokowi menjajal motor listrik, Gesits. (Andhika-detikcom)
Jakarta - PT Garasindo Teknologi Indo (GTI) menyebut produk motor listrik nasional Garansindo Electric Scooter ITS atau Gesits sudah terpesan sebanyak 30.000 unit, padahal motor ini baru akan diluncurkan pada Januari 2019.

Direktur PT GTI Zaki Nahdi Saleh mengatakan 30.000 unit tersebut masuk dalam pre order sambil menunggu waktu peluncuran.

"Kalau dari sisi pasar kita sudah ada pre order sampai 30 ribu. Ini belum publish harga kan," kata Zaki di Komplek Istana, Jakarta, Rabu (7/11/2018).


Zaki menyebut, harga jual motor karya anak bangsa ini sekitar Rp 22-23 juta per unit. Hal itu dinilai kompetitif jika dibandingkan dengan motor konvensional pada umumnya.

"Kalau dari kita dari industrinya kurang lebih Rp 20 juta, harga pasar kurang lebih Rp 22-Rp 23 juta," jelas dia.

Zaki menyebut, organ penting dalam pembuatan motor listrik Gesits ini terletak pada baterai. Untuk saat ini, pihak PT Wimo yang merupakan usaha gabungan antara Wijaya Karya Industri dan Konstruksi dengan PT GTI menyerahkan hal tersebut kepada Pertamina.

Pihak Pertamina, kata Zaki pun akan menyediakan pengisian baterai di 10 Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di Jakarta. Seiring dengan berjalannya pemasaran pun jumlah SPBU yang menerima pergantian baterai akan ditambah lagi.


"Jadi mau habis pergi ke SPBU langsung ada swap station, mungkin 10 SPBU di Jakarta. Habis Jakarta, Surabaya, Bali, bertahap. Karena itu Pertamina, Wika dan BUMN bersama. Ini produk bersama nasional," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Utama PT Wijaya Karya Tumiyana mengatakan, investasi gelombang pertama pada produksi motor listrik Gesits ini sebesar Rp 180 miliar.

"Untuk line pertama Rp 180 miliar, (100%) dari Wika," kata Tumiyana.

Tumiyana mengatakan, prosuksi yang baru dilakukan pada Januari 2019 ini juga akan diutamakan pada pasar dalam negeri mengingat Indonesia memiliki junlah penduduk banyak.

"Kita nggak ngomong ekspor dulu. Market dalam negeri kalaubkita ngomong jumlah penduduk kita nomor 4 di dunia. Jadi pasti kalau ngomong kebutuhan, penduduk kita 261 juta. Pemakai kendaraan bermotor 70% dari total. Sehingga market masih top di sini," papar dia.

(hek/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com