Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 26 Nov 2018 21:00 WIB

Daya Tarik Startup RI di Mata Investor Asing

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Perkembangan teknologi ditambah dengan bonus demografi ditandai dengan banyaknya jumlah angkatan kerja produktif mendorong munculnya banyak pelaku usaha baru atau yang saat ini lebih dikenal dengan istilah startup.

Kemunculan sturtup di Indonesia menarik minat banyak investor asing yang melihat besarnya peluang perkembangan industri di tanah air.

"Investor global tentu sangat tertarik dengan peluang ini. Sebab, secara genetik, startup yang sukses di Indonesia akan lebih mudah masuk ke pasar lain di seluruh Asia Tenggara," kata Peneliti Senior Bidang Ekonomi Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero, di Jakarta, Senin (26/11/2018).


Startup atau perusahaan rintisan Indonesia juga membutuhkan investor dari luar, agar bisa tumbuh dan berkembang lebih besar. Sebab, sampai saat ini kekuatan modal dan keahlian para investor lokal belum bisa menunjang perkembangan startup Indonesia.

Ketidakmampuan itu terjadi akibat pemahaman bisnis investor lokal yang kebanyakan berasal dari grup-grup bisnis lama masih sangat tradisional.

"Lanskap bisnis startup di bidang teknologi dan digital ini hal yang sangat baru. Kompetitornya juga baru. Maka, perlu pemahaman dan keahlian yang saat ini belum dimiliki mayoritas investor lokal," ujarnya.

Masuknya investor asing juga tak berarti startup Indonesia menjadi dimiliki oleh pihak asing.

Memang, beberapa startup besar di Indonesia, seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka, kerap diterpa isu kepemilikan asing akibat masuknya investor. Jika ada terpaan isu seperti itu, bisa jadi merupakan usaha kompetitor dalam menjatuhkan lawan.


Menurut Poltak, anggapan masuknya investor asing membuat startup Indonesia menjadi dimiliki asing ini bisa dijawab melalui status badan hukum perusahaan tersebut.

"Badan hukumnya memang di mana? Indonesia kan? Artinya mereka tunduk pada regulasi Indonesia," kata dia.

Beredarnya informasi terkait besaran kepemilikan saham Nadiem Makarim di Go-Jek baru-baru ini, menurut Poltak juga tidak bisa diterima begitu saja.

"Saya berani challenge, datanya valid atau tidak? Lagipula, data tersebut tidak akan di-disclose begitu saja, karena tidak ada kepentingan untuk disclose data tersebut," ujarnya.

Apalagi, struktur dan pendanaan di dalam startup berbeda antara yang satu dengan lainnya. Faktor senioritas pun umumnya menjadi faktor penentu langkah yang akan diambil di dalam sebuah startup. "Memang beda dari perusahaan biasa. Kalau perusahaan biasa kelas investornya sama semua. Sedangkan di startup tidak sama," kata Poltak.

Pendiri memiliki peranan sentral, karena menjadi satu-satunya yang paling tahu genetik dari startup tersebut. Banyak investor justru berminat masuk karena adanya sosok pendiri.

"Founder adalah penengah yang bisa melihat visi masing-masing investor. Meski valuasi sahamnya tidak besar, founder tetap memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan dan menentukan karakter startup-nya," ujar Poltak.

Contoh konkretnya adalah Jack Ma, yang merupakan pendiri Alibaba. Meski kepemilikan sahamnya di startup berbasis teknologi besar asal Tiongkok itu hanya sekitar 7 persen, dia tetap memegang kendali pengambilan keputusan dan penengah bagi para investornya.

Padahal, pemegang saham terbesar di Alibaba adalah Softbank, investor asal Jepang, yang menguasai sekitar 29 persen. "Dan Jack Ma tetap menjadi figur penting di Alibaba sampai sekarang," katanya.


Tonton juga 'Lemahnya Rupiah Bisa Jadi Daya Tarik Investor Asing':

[Gambas:Video 20detik]

(das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed