Tapi jangan salah, di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian terdapat traktor otomatis bernama autonomus. Traktor tersebut memiliki bentuk layaknya alat berat pada umumnya. Hanya saja, alat tersebut bisa bekerja otomatis tanpa awak pengendara.
Traktor dikendalikan menggunakan perangkat elektronik seperti laptop atau android. Sehingga petani tak perlu menguras tenaga lebih banyak untuk itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance |
Adapun modifikasi tersebut memakan biaya hingga Rp 200 juta. Modal tersebut hanya untuk pengembangan sistem otomatisasi.
"Kalau sistemnya sendiri itu Rp 150 jita sampai Rp 200 juta lah," kata Lilik saat ditemui detikFinance di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Tangerang, baru-baru ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan dana tersebut ia peroleh dari anggaran Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dana dilakukan untuk membeli komponen-komponen yang bisa mendukung sistem otomatisasi.
"Komponen 80%-nya lokal. Sisanya nggak, misalnya itu GPS itu kita impor karena khusus kan," sambung dia.
Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance |
Adapun, modifikasi tersebut memakan waktu hingga tiga bulan lamanya. Sebab, di tengah-tengah percobaan sering terjadi kesalahan pemasangan komponen.
Hal itu menyebabkan kegagalan, karena mesti ada perubahan untuk menyesuaikan kembali komponen pada sistem.
"Ya pengulangan dalam pemilihan komponen saja. Jadi misalnya ada yang mudah terbakar kan memang biasa barang elektronik, nah kita cari yang terbaik," terang dia.
Sementara itu, proyek tersebut dikerjakan oleh 10 orang yang terdiri dari lima perekayasa dan lima teknisi dalam waktu tiga bulan. (dna/dna)

Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance