Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 16 Jan 2019 11:40 WIB

Bantu Susi Lawan Maling Ikan, PTDI Bikin Pesawat Bersenjata

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Ilustrasi Pesawat. Foto: ptdi Ilustrasi Pesawat. Foto: ptdi
Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI tengah mengembangkan pesawat CN235 yang dilengkapi dengan senjata atau gun ship. Pesawat ini merupakan pengembangan dari CN235 yang sebelumnya sudah diproduksi PTDI.

"Iya memang kita sedang men-develope variant dari legacy product kita CN235, dengan kemampuan sebagai Gun-Ship Aircraft version," kata Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo kepada detikFinance, Rabu (16/1/2019).

Dikembangkannya pesawat CN235 dengan perlengkapan senjata untuk memenuhi kebutuhan keamanan di wilayah perairan dan perbatasan Indonesia.

"Ini kita develop untuk memenuhi kebutuhan civil security khususnya daerah perairan dan juga perbatasan negara," ujar Arie.

Ia menambahkan bahwa ini adalah inovasi perseroan yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat untuk kebutuhan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti serta TNI/Polri. Pesawat ini diharapkan bisa membantu memerangi kapal maling ikan, human trafficking, hingga peredaran narkotika.

"Ini inovasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang ditujukan untuk kemungkinan kebutuhan kementerian Ibu Susi maupun angkatan/Polri," tutur Arie.


Pesawat CN235 Gun Ship saat ini dalam proses penyelesaian basic aricraft. Sedangkan pengujian senjata dilakukan secara terpisah.

Namun, detail persenjataannya belum bisa dirinci oleh PTDI. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Pindad.

"Memungkinkan nanti apabila sudah ada customernya kami bekerja sama dengan Pindad sebagai bentuk BUMN sinergi," ujar Arie.

Pesawat CN235 Gun Ship diharapkan bisa uji terbang tahun ini. "Harapan kita bisa terbang perdana dan memulai terbang pengujian tahun 2019 ini," tutur Arie.

Perlu diketahui, sertifikasi adalah proses verifikasi untuk memastikan pesawat aman untuk digunakan masyarakat. Untuk mendapatkan sertifikasi tidak hanya dengan menerbangkan pesawatnya 300 jam saja, tapi juga melakukan development flight test untuk mengetahui apakah performa pesawat sesuai rancangannya.

Kemudian certification flight test sebagai verifikasi akhir dari otoritas dalam hal ini Kementerian Perhubungan terhadap keamanan pesawat.

(ara/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed