Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Mar 2019 19:40 WIB

Selain Harga, Petani Lapor Jokowi soal Importir Berkedok Pabrik Gula

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Asosiasi Pengusaha Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) melaporkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang adanya pembangunan pabrik gula baru yang berindikasi hanya demi mendapatkan kuota impor.

Ketua Dewan Pembina APTRI HM Arum Sabil juga melaporkan mengenai rendahnya harga gula. Menurut dia, harga gula berada di bawah harga produksi.

"Kami sampaikan Presiden, bahwa Presiden waspadai berdirinya pabrik-pabrik gula baru yang indikasinya hanya kedok untuk impor gula mentah," kata Arum di komplek Istana, Jakarta, Selasa (5/3/2019).


Arum menjelaskan, sebenarnya APTRI menyambut baik dengan berdirinya pabrik gula baru. Asalkan, pabrik tersebut juga terlibat dalam penanaman tebu dan bermitra dengan petani.

Menurut Arum, sudah ada pabrik baru yang mendapatkan izin impor gula dengan alasan untuk memenuhi kapasitas terpasangnya. Oleh karena itu, dirinya meminta Kapala Negara untuk mewaspadai setiap adanya pabrik gula baru.

Menurut Arum, jika alasannya untuk memenuhi kapasitas produksi terpasang. Maka seharusnya diisi dari produktivitas petani nasional.

"Bahkan saya sampaikan ke presiden, mafia impor gula ini sudah masuk ke semua sendi. Bahkan fee-nya dan indikasinya berapa, sudah saya sampaikan ke presiden," ujar dia.

Dia juga menceritakan mengenai rembesnya gula rafinasi hasil impor ke pasar. Kebutuhan gula konsumsi nasional jika dirata-ratakan per orang 9 kg pertahun. Maka totalnya sekitar 2,5 juta ton atau sama dengan kebutuhan industri, sehingga totalnya mencapai 5 juta ton.

Masalahnya, kapasitas pabrik gula rafinasi yang ada sekarang ini sudah di atas 5 juta ton. Bahkan, ada salah satu pabrik yang mendapatkan izin dengan kuota sekitar 1 juta ton. Jika ditambah dengan produksi nasional yang sekitar 2,3-3,4 juta ton, maka ada sekitar 8,3 juta ton gula atau melebihi kebutuhan nasional.

"Itu lah kenapa gula industri merembes ke pasar," ujar dia.


Persoalan gula yang disampaikan ke Presiden Jokowi pun tidak sampai di situ. Arum mengungkapkan bahwa sekarang muncul gula kristal putih yang mereknya hampir sama dengan produk gula milik petani tebu. Produksi gula tersebut diindikasikan dari pabrik gula baru yang mengimpor gula mentah.

"Bukan kita tak punya daya saing, namun 2017 lalu stok gula dunia di akhir 2017 dan 2018 sudah 97 juta ton. Dunia. Nah itu dikemanakan? akhirnya mereka akan jual murah ke pasar Indonesia. Bisa saja kita dimatikan agar petani gula mati dan produsen gula dunia jadikan Indonesia pasar potensial," kata dia.

Mengenai harga gula, Arum mengatakan bahwa Presiden Jokowi sepakat pembentukan tim independen penentu HPP gula selesai dalam bulan ini.

"Presiden setujui dalam bulan ini. H-3 bulan sebelum panen dan sebelum pabrik gula giling," ungkap dia. (hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed