Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 13 Mar 2019 14:26 WIB

Pengusaha Keluhkan Luas Kebun Teh dan Produksi yang Terus Turun

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Ilustrasi Kebun Teh/Foto: Imam Suripto/detikcom Ilustrasi Kebun Teh/Foto: Imam Suripto/detikcom
Jakarta - Pegiat teh keluhkan berkurangnya lahan dan produksi teh yang makin menurun. Dua hal tersebut ditengarai menjadi tantangan bagi pengembangan industri teh di Indonesia.

Kabid Kerja Sama Dalam dan Luar Negeri Dewan Teh Indonesia Iriana Ekasari mengatakan bahwa semakin tahun lahan teh makin berkurang. Mulai dari dikonversikan menjadi tanaman lain hingga menjadi pemukiman penduduk.

Setidaknya dari data Kementerian Pertanian, Iriana memaparkan lahan perkebunan teh di Jawa Barat saja sebagai penghasil teh terbesar di Indonesia, lahannya telah berkurang sebanyak 6,3% sejak 2014. Dari awalnya ada 89.978 hektar di 2014, menjadi hanya 84.316 di 2018.

"Di Jawa Barat saja terjadi penurunan 2014-2018 itu 5.600 hektar penurunan. Dari lahan yang ada 4.800 hektar sedang diusahakan (beroperasi), 14.000 hektar di antaranya justru abandoned," ungkap Iriana saat melakukan FGD Teh di Gedung Kadin, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).


Oleh karena itu, produksi teh nasional pun menurun. Iriana dan pengusaha teh lainnya pun mengeluhkan hal ini.

"Produksi kita dari 2007 terus menurun. Kini produksi teh hanya sebesar 140.324 ton di akhir 2018, padahal sebelumnya di 2007 mencapai 150.000 ton," sebut Iriana.

Jumlah produksi tersebut justru tidak mencukupi kebutuhan teh nasional. Dari data yang dipaparkan Iriana setidaknya Indonesia membutuhkan kurang lebih 155.000 ton teh.

Rinciannya 100.000 ton teh akan digunakan untuk kebutuhan dalam negeri, 49.000 ton akan digunakan untuk ekspor dan sisa 6.000 tonnya digunakan untuk stok nasional.


Untuk itu Iriana menyarankan agar pemerintah dapat mengatur zona penanaman kebun teh. Hak tersebut dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan teh nasional dan mengurangi impor.

"Saya menyarankan agar membuat zonasi tea plantation, agar lahan teh nggak bisa dikonversi lagi buat ini itu. Bayangkan itu dahulu orang Belanda buka gunung baru buat lahan teh aja berapa uang infrastrukturnya kan," ungkap Iriana. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed