Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Mar 2019 11:10 WIB

Batik Asal RI 'Terbang' ke Jepang hingga AS

zlf - detikFinance
Menperin Airlangga Hartarto, Dirjen IKMA Gati W, Ketua Pameran Adiwastra, Yantie Airlangga di stand binaan PT Pupuk Indonesia/Dok: Kemenperin Menperin Airlangga Hartarto, Dirjen IKMA Gati W, Ketua Pameran Adiwastra, Yantie Airlangga di stand binaan PT Pupuk Indonesia/Dok: Kemenperin
Jakarta - Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka US$ 58,6 juta atau naik 10 persen dibanding capaian tahun lalu sebesar US$ 53,3 juta. Ekspor tenun dan batik Indonesia mayoritas dikapalkan ke negara maju seperti Jepang, Belanda dan Amerika Serikat.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, peluang ekspor tenun dan batik masih terbuka lebar.

"Tenun dan batik merupakan high fashion yang nilai tambahnya tinggi, bukan sebagai komoditas. Maka itu, ekspor untuk industri ini terus kami dorong. Apalagi, sekarang Wastra Nusantara semakin beragam dan diminati konsumen global. Bahkan, tadi kami melihat ada substitusi sutra dari pabrik yang di Sukoharjo, Jawa Tengah," ucap Airlangga Hartarto saat pembukaan Pameran Adiwastra 2019 di Jakarta, Rabu (20/2), seperti ditulis dalam keterangan resminya.

Menurut Airlangga, industri tenun dan batik yang merupakan bagian dari kelompok industri tekstil dan busana memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Industri tenun dan batik, banyak ditekuni oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di sentra-sentra industri. "Selain berorientasi ekspor, sektor ini juga tergolong padat karya," ungkapnya.

Kemenperin mencatat, sentra industri batik di Jawa mencapai 101 unit. Di dalamnya ada 3.782 unit usaha yang menyerap tenaga kerja hingga 15.055 orang. Sementara tenun diproduksi di 368 sentra dengan 14.618 unit usaha dan mempekerjakan 57.972 orang.


Sementara itu, Ketua Panitia Pameran Adiwastra 2019, Yanti Airlangga mengatakan, pameran Adiwastra 2019 merupakan pameran kain adat terbesar di Indonesia. Gelaran tersebut sudah dilaksanakan sejak tahun 2008 hingga sekarang.

"Pameran ini untuk terus mengobarkan semangat kelestarian serta pengembangan kain adat di nusantara yang memiliki kekayaan dan keindahan, serta nilai-nilai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi," tegasnya.

Yanti mengatakan, pameran ini ditargetkan dapat dihadiri lebih dari 40.000 pengunjung dari seluruh Indonesia dengan nilai penjualan sebesar Rp 45-50 miliar. Menurutnya, minat masyarakat terhadap kain adati terus meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk busana, interior maupun kebutuhan lainnya.

"Kecenderungan ini kian meningkat sejak Unesco menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda dari Indonesia tahun 2009 yang lalu," jelasnya.

Pameran ini diselenggarakan pada 20-24 Maret 2019 di Hall A dan B Jakarta Convention Center dengan diikuti 413 stand peserta dari seluruh Indonesia.


Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun 2019 ini, Kementerian Perindustrian memberikan kontribusi yang jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya.

"Fasilitasi yang diberikan antara lain booth pameran untuk 36 industri batik dan tenun yang meliputi 20 booth dari Direktorat Jenderal IKMA dan 16 dari Direktorat Jenderal IKFT," imbuh Gati. (zlf/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed