Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Mar 2019 20:33 WIB

Pesanan Pesawatnya Dibatalkan Garuda, Bos Boeing Mau ke Indonesia

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: ABC Australia Foto: ABC Australia
Jakarta - Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan bahwa pihaknya akan bertemu Boeing dalam waktu dekat. Hal tersebut terkait dengan sikap Garuda yang melakukan pembatalan pada pemesanan unit pesawat Boeing 737 MAX 8.

Menurut pria yang biasa dipanggil Ari Akshara ini, pihak Boeing akan mendatangi kantornya untuk menegosiasikan kelanjutan surat penghentian pesanan dari Garuda ke pihak Boeing.

"Untuk negosiasi, mereka (Boeing) dengan pemimpin barunya akan datang tanggal 28 Maret (2019) di Kantor Garuda. Jadi kita sudah mulai mendiskusikan, memang jawabannya standar mereka mau mempertimbangkan dan negosiasi, tapi negosiasi ini bisa panjang," ungkap Ari saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta, Kamis (21/3/2019).


Dalam negosiasi tersebut menurut Ari, pihaknya memprioritaskan untuk mencari alternatif jenis pesawat lain dibanding dengan menolak mentah-mentah permintaan negosiasi. Dia menegaskan pihaknya sudah memposisikan diri untuk membatalkan jenis 737 MAX 8, hanya saja kalau ada alternarif jenis pesawat lain pihaknya tetap membuka diri.

"Prinsipnya kami bukannya mau ganti Boeing tapi akan cari tipe lain, jadi mungkin mereka tawarkan Boeing 737 MAX 10, itu (pesawat) yang baru, saingannya mungkin Airbus 321," ungkap Ari.

Pihak Garuda, menurut Ari, sudah mengeluarkan dana awalan untuk pemesanan Boeing 737 MAX 8. Agar tidak membuat dana itu sia-sia menghilang, maka dari itu pihaknya ingin bernegosiasi dengan Boeing.

"Kita sudah bayar ke Boeing sebesar US$ 26 juta untuk 50 unit yang masuk kan baru satu. Pasti Boeing juga tidak akan kembalikan begitu saja, makanya mereka akan negosiasi," ungkap Ari.


Dengan penuh kepercayaan diri Ari menyebutkan bahwa pasti Boeing akan memberikan jalan tengah dengan Garuda. Pasalnya, menurut Ari Garuda menjadi salah satu maskapai yang banyak menggunakan pesawat pabrikan Amerika Serikat itu.

"Kalau sesuai kontrak kita nggak bisa narik, itu merupakan risiko kalau (uang) nggak balik ya. Nggak mungkin mereka ignore Garuda, kita kan salah satu leader of market mereka nggak mungkin mereka ignore," sebut Ari.

Sebelumnya, buntut dari pelarangan terbang Boeing 737 MAX 8 membuat Garuda Indonesia telah melakukan pembatalan pada pemesanan unit pesawat tersebut. Ari juga mengatakan bahwa pihaknya pun sudah menyurati pihak Boeing dalam melanjutkan sikapnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed