Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 01 Apr 2019 16:50 WIB

Ekspor Karet Dibatasi, Harga Ditargetkan Naik ke US$ 1.600/MT

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Penyadap karet/Foto: Reuters Penyadap karet/Foto: Reuters
Jakarta - Indonesia, Malaysia dan Thailand membatasi ekspor karet lewat mekanisme Agreed Export Tonnage Scheme (AETS). Merespons hal itu, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) berharap harga karet dunia bisa meningkat.

Gapkindo mendukung keputusan pemerintah memangkas volume ekspor agar harga karet di tingkat dunia bisa meningkat.


"Sesuai kesepakatan tiga negara, Gapkindo mendukung dan menilai AETS efektif. Harapannya bisa naik (harga). Selama tiga bulan terakhir wacana AETS saja bisa nagkat harga jadi pasar telah memperhitungkan dengan serius," ujar Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo kepada detikFinance, Senin (1/4/2019).

Moenardji menjelaskan, saat ini harga karet di bursa komoditas berada di angka US$ 1.450-an per matrix ton (MT). Harapannya, kebijakan ini bisa mengangkat harga komoditas ke angka US$ 1.600 per MT.

"Harapannya US$ 1.600 per MT. Saat ini US$ 1.450-an per MT," jelasnya.


Sementara itu, Gapkindo sendiri ditugaskan Kementerian Perdagangan sebagai pelaksana pembagian volume dalam pembatasan ekspor, nantinya, perusahaan yang tak mematuhi akan diberikan sanksi.

Sebagai informasi, pembatasan ekspor mulai diberlakukan oleh Indonesia dan Malaysia pada hari ini. Sedangkan, Thailand baru akan melaksanakan pada 20 April mendatang.

Ekspor Karet Dibatasi, Harga Ditargetkan Naik ke US$ 1.600/MT
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com