Darmin menerangkan bahwa kini industri jasa mulai dari sektor pariwisata hingga ekonomi digital pun harus diperhatikan. Walaupun industri jasa tidak mempengaruhi angka kontribusi manufaktur terhadap pendapatan nasional.
"Kan kita hidup di dalam satu periode di mana persoalan jasa, persoalan pariwisata, digital, dan sebagainya masuk. Begitu dia mulai masuk ke aspek-aspek yang tidak langsung manufaktur memang tidak selalu kemudian dicapai peranan manufaktur itu harus di atas 30%," kata Darmin yang ditemui di ICE BSD, Senin (15/4/2019).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmin menilai cara penilaian majunya industri suatu negara yang hanya melihat perkembangan manufakturnya saja sudah ketinggalan zaman. Dia menyebutkan itu hanya pakem dunia di masa lalu, padahal dunia terus berubah dengan cepatnya.
"Jadi jangan terlalu kaku mengikuti pakem-pakem dunia di masa lalu. Dunia itu bergerak berubah," tegas Darmin.
Pariwisata misalnya, Darmin menilai sektor tersebut memiliki peluang yang besar untuk mendongkrak ekonomi negara. Meskipun, Indonesia dikenal dengan komoditas sumber daya alam nya yang kuat, namun Darmin menilai pariwisata nasional sedang naik daun.
"Kita memang negara dengan sumber daya nya bisa pertanian, pertambangan tapi juga bisa di sektor jasa, seperti pariwisata. Apa ekspor kita yang terbesar kalau dilihat per komoditi nya, satu adalah kelapa sawit, kedua pariwisata," kata Darmin.
Sebagai informasi, deindustrialisasi adalah penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan non migas terhadap PDB. Penurunan juga terjadi dari aspek output produksi dan tenaga kerja sehingga sektor manufaktur mengalami penurunan nilai tambah.











































