Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 26 Apr 2019 22:00 WIB

Kementerian BUMN Jawab Kritik Faisal Basri soal Bulog Caplok Pabrik Gula

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Purwakarta - Ekonom Faisal Basri mengkritik Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno atas aksi Perum Bulog membeli pabrik gula milik PT Gendhis Multi Manis (GMM) karena dianggap malah merugikan negara. Faisal Basri juga meminta Rini Soemarno dipecat

Kementerian BUMN pun buka suara menanggapi Faisal Basri. Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro menjelaskan, pertama dana yang digunakan oleh Bulog untuk membeli pabrik gula tersebut dengan meminjam BRI. Artinya tidak ada uang negara yang dipertaruhkan di situ. Kalau pun pada akhirnya rugi, itu ditanggung oleh Bulog.

"Iya murni komersial. Jadi tidak ada PMN (penyertaan modal negara) untuk beli GMM, itu nggak ada, itu bisa dipastikan kan kita diaudit BPK," katanya saat ditemui di Purwakarta, Jumat (26/4/2019).


Disamping itu, Buluog mendapatkan pabrik gula dengan harga lebih murah ketimbang membeli sendiri. Jadi dengan hitung-hitungan tersebut menguntungkan.

"Nilainya kalau nggak salah valuasi harga pabrik gulanya Rp 125 miliar dan Bulog (membayar) 70 persennya, seinget ku lho ya, (jadinya) Rp 90-an miliar. Bayangin dapat pabrik gula. (Kalau) bangun Rp 2 triliun lho," paparnya.

Dia juga menjelaskan latarbelakang dibelinya pabrik gula tersebut oleh Bulog. Itu karena dulu Bulog mendapatkan alokasi impor raw sugar alias gula mentah. Tentu saja itu membutuhkan pabrik yang memprosesnya menjadi gula jadi.

"Impor raw sugar 2016 cukup banyak itu 260 ribu ton. Cuma Bulog nggak punya pabrik gula. Waktu itu juga di pemerintah memutuskan ada wacana untuk one gate policy. Jadi kalau mau impor sugar satu pintu saja supaya gampang aturnya," ujarnya.

Ketimbang mengolah gula mentah di pabrik gula swasta, dianggap lebih baik mengolahnya di pabrik sendiri. Sementara saat itu Bulog belum punya, maka diputuskan membeli pabrik gula GMM.

"Sehingga dari latarbelakang itu Bulog untuk memperkuat perannya dipandang perlu daripada diolahkan raw sugar itu ke pabrik gula lain," tambahnya.


Dia mengakui saat butuh waktu agar pabrik gula tersebut bisa untung. Itu cukup tergantung dari gula mentah yang diproses di pabrik tersebut, salah satunya dengan impor gula mentah.

"Bulog kemudian mencoba menjajaki mengambil GMM, itung-itung-itung, dievaluasi dibantu oleh Bahana ya sudah diputusin diambil begitu dan feasible dengan catatan memang akan ada alokasi impor raw sugar untuk Bulog," tambahnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com