Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 14 Mei 2019 17:47 WIB

Soal Industri Halal, Jokowi: RI Masih di Belakang Malaysia

Danang Sugianto - detikFinance
Presiden Jokowi/Foto: Rengga Sancaya Presiden Jokowi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Presiden Joko Widodo hari ini resmi meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024. Rancangan ini akan menjadi fondasi dalam mengembangkan ekonomi syariah Indonesia ke depannya.

Menurut Jokowi, Indonesia dengan penduduk yang besar dan mayoritas memeluk agama Islam sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk menjadi ekonomi syariah yang kuat. Bahkan dia yakin Indonesia bisa menjadi ekonomi syariah terkuat keempat atau kelima di dunia pada 2045.

"Tapi untuk menuju ke sana bukan barang yang mudah. Banyak tantangan dan persoalan besar yang harus diselesaikan," tuturnya di Gedung Bappenas, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Pekerjaan yang harus dibenahi adalah ketersediaan infrastruktur yang saat ini masih di angka 43%. Kemudian Sumber Daya Manusia (SDM) juga masih jadi kendala, serta reformasi birokrasi dan struktural harus dilakukan.


Menurutnya, salah satu kunci untuk mencapai cita-cita itu ada di masyarakat Indonesia sendiri yang merupakan penduduk Muslim terbesar dunia. Kuncinya adalah ekonomi syariah.

"Sebagai motor penggerak ekonomi nasional dan sumber kesejahteraan umat. Ekonomi syariah memiliki potensi besar di tingkat dunia. Seperti disampaikan menteri Bappenas, tahun 2023 akan mencapai US$ 3 triliun kalau dirupiahkan kurang lebih Rp 45 ribu triliun," tambahnya.

Itu merupakan kue yang sangat besar dan menggiurkan. Sayangnya menurut Global Islamic Indicator, pada 2018 Indonesia berada di peringkay ke 10 sebagai negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah.

"Masih jauh. Kita masih di belakang Malaysia. Masih di belakang UEA. Masih di belakang Bahrain. Masih di belakang Arab Saudi. Masih di belakang Oman, Qatar, Pakistan, Kuwait. Inilah pekerjaan besar kita bersama sama," tuturnya.


Jokowi percaya ekonomi syariah bisa turut mengentaskan kemiskinan dan melestarikan lingkungan, serta mendorong kesejahteraan sosial. Oleh karena itu pemerintah telah meluncurkan masterplan untuk membangun ekonomi syariah.

"Masterplan ini menjadi panduan dan akan dimonitor terus progres perkembangannya," kata Jokowi.

Pemerintah, lanjutnya, akan fokus menguatkan rantai nilai halal dengan berorientasi pada sektor makanan minuman, fashion, wisata, media, rekreasi serta farmasi dan kosmetika.

Sebagai pendukungnya, akan diperkuat UMKM dan ekonomi digital di bidang syariah. Dengan begitu diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen di industri halal global, tapi juga produsen.

"Saya sangat senang sekali dengar saat ini sudah ada market place yang tawarkan produk halal. Saya kira ini menjadi sebuah step untuk kita memanfaatkan produk kita yang sudah banyak. Sehingga kita tidak hanya menjadi negara konsumen terbesar produk halal global, namun produsen terbesar dari produk halal yang akan masuk ke negara lain," tutupnya.



Tonton video terbaru Topreneur, inspirasi bisnis kerajinan tangan beromzet Rp 30 juta/ bulan berikut ini:

[Gambas:Video 20detik]


Soal Industri Halal, Jokowi: RI Masih di Belakang Malaysia
(das/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed