Industri Halal Masih Tertinggal, RI Bisa Apa?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 15 Mei 2019 08:22 WIB
Industri Halal Masih Tertinggal, RI Bisa Apa?
Foto: Agung Pambudhy

Jokowi menilai industri syariah global memiliki kue yang sangat besar dan menggiurkan. Sayangnya menurut Global Islamic Indicator, pada 2018 Indonesia berada di peringkay ke 10 sebagai negara yang menyelenggarakan ekonomi syariah.

"Masih jauh. Kita masih di belakang Malaysia. Masih di belakang UEA. Masih di belakang Bahrain. Masih di belakang Arab Saudi. Masih di belakang Oman, Qatar, Pakistan, Kuwait. Inilah pekerjaan besar kita bersama sama," tuturnya.

Jokowi percaya ekonomi syariah bisa turut mengentaskan kemiskinan dan melestarikan lingkungan, serta mendorong kesejahteraan sosial. Oleh karena itu pemerintah telah meluncurkan masterplan untuk membangun ekonomi syariah.

"Masterplan ini menjadi panduan dan akan dimonitor terus progres perkembangannya," kata Jokowi.

Pemerintah, lanjutnya, akan fokus menguatkan rantai nilai halal dengan berorientasi pada sektor makanan minuman, fashion, wisata, media, rekreasi serta farmasi dan kosmetika.

Sebagai pendukungnya, akan diperkuat UMKM dan ekonomi digital di bidang syariah. Dengan begitu diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen di industri halal global, tapi juga produsen.

"Saya sangat senang sekali dengar saat ini sudah ada market place yang tawarkan produk halal. Saya kira ini menjadi sebuah step untuk kita memanfaatkan produk kita yang sudah banyak. Sehingga kita tidak hanya menjadi negara konsumen terbesar produk halal global, namun produsen terbesar dari produk halal yang akan masuk ke negara lain," tutupnya.