Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 21 Mei 2019 12:15 WIB

Ford Mau PHK 7.000 Karyawan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Dadan Kuswaraharja Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Produsen otomotif, Ford akan memangkas 7.000 karyawan level menengah atau 10% dari jumlah karyawan Ford yang ada di seluruh dunia.

Mengutip CNN Business, pemutusan hubungan kerja (PHK) ini dilakukan sebagai langkah efisiensi dan menghemat biaya operasional hingga US$ 600 juta, langkah ini juga untuk menyelamatkan kinerja keuangan perusahaan yang kerap kali mengalami defisit.

Ford menginformasikan PHK ini dalam waktu dekat dan pemangkasan ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2019. Pertama-tama Ford akan memutus kerja 2.400 karyawan untuk wilayah kerja di Amerika Utara, kemudian perusahaan pesaing General Motors (GM) ini menawarkan pensiun dini untuk 1.500 pekerja.


CEO Ford, Jim Hackett dalam surat pemberitahuannya menjelaskan upaya pemangkasan ini semata-mata demi efisiensi perusahaan.

Sebelum Ford, GM sudah mengumumkan memangkas ribuan karyawan pada November tahun lalu. GM juga sudah menutup lima pabrik di Amerika Utara untuk langkah efisiensi.

Tahun lalu Ford menggelontorkan dana hingga US$ 11 miliar untuk membangun kembali bisnisnya. CEO Ford mengharapkan dapat meningkatkan penjualan di pasar luar negeri dengan melakukan modernisasi armada kendaraan yang mengedepankan teknologi sampai tenaga listrik.


Namun, langkah tersebut dinilai untuk sebuah restrukturisasi bisnis. Hingga akhirnya, Ford menutup tiga pabrik di Rusia, satu pabrik di Eropa dan lainnya di Brazil. Penjualan Ford juga terus menurun hal ini karena kondisi ekonomi global yang tidak bersahabat. Pendapatan Ford di Amerika Selatan, Asia, dan Eropa merosot tajam hingga mengalami kerugian.

Analis Senior Cox Automotve, Michelle Krebs menjelaskan tak hanya Ford, industri otomotif lainnya saat ini sedang menghadapi tantangan yang berat. Seluruh produsen mobil harus menyematkan teknologi terbaru dalam produknya. Misalnya teknologi self driving sampai mobil listrik.

"Seluruhnya mengalami keterpurukan, mereka harus mencari apa penyebab kerugian yang dialami dan strategi untuk masa depan," jelas dia. (kil/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed