ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 05 Nov 2019 06:03 WIB

Petani Tembakau Tuntut Kenaikan Cukai Rokok Hanya 15%

Vadhia Lidyana - detikFinance
Halaman 1 dari 3
Foto: Demo Petani Tembakau di Depan Kementerian Keuangan, (Vadhia Lidyana/detikFinance) Foto: Demo Petani Tembakau di Depan Kementerian Keuangan, (Vadhia Lidyana/detikFinance)
FOKUS BERITA Cukai Rokok Naik 23%
Jakarta - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat (Jabar) kemarin, Senin (4/11/2019) menggelar unjuk rasa di depan kantor Kementerian Keuangan. Dalam aksi tersebut, APTI Jabar juga menyampaikan keberatannya mengenai kenaikan cukai rokok rata-rata 23%, dan harga jual eceran (HJE) rata-rata 35% yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 152 tahun 2019.

Selain memprotes kenaikan cukai rokok, APTI Jabar juga mengajukan keberatan mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang diatur dalam PMK nomor 222 tahun 2017.

APTI Jabar juga menyampaikan aspirasinya terkait volume impor tembakau di industri. APTI meminta agar pemerintah membatasi impor tembakau agar tembakau petani dalam negeri bisa terserap lebih banyak dan harga tak anjlok.

Petani Minta Kenaikan Cukai Rokok Hanya 15%

Pengurus DPC APTI Jabar, Didi Rohmana mengatakan, pihaknya meminta agar pemerintah mempertimbangkan kembali kenaikan cukai rokok. Menurutnya, yang ideal kenaikannya sebesar 10-15%.

"Yang pertama memperhatikan kenaikan cukai, ini perlu dipertimbangkan, jangan terlalu tinggi sampai 23%. Kami minta 10-15%. Kata Pak Dirjen itu di dalam proses pembahasan di tingkat menteri," ujar Pengurus DPC APTI Jabar, Didi Rohmana kepada detikcom di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Menjawab hal tersebut, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi mengatakan, pada penerapannya kenaikan cukai rokok bervariasi. Misalnya, kenaikan cukai rokok untuk jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) dimulai dari 12%. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memperhatikan nasib tenaga kerja dan petani di industri padat karya tersebut.

"Kalau kita perhatikan PMK 152 itu meskipun average-nya adalah 23% dan 35%, tapi kalau kita lihat detailnya itu variatif. Pemerintah betul-betul telah memperhatikan kemampuan antar golongan, kemampuan antar jenis rokok. Sehingga kenaikan cukai rokok jenis SKT start-nya dari 12%. Itu membuktikan bahwa pemerintah memperhatikan tenaga kerja yang di industri padat karya, makanya kenaikan tarif SKT itu terendah. Ini berbeda dengan yang mesin, yang relatuif lebih tinggi," papar Heru.

Menurutnya, kenaikan cukai rokok memang difokuskan untuk mengendalikan konsumsi dan produksi rokok. Namun, pemerintah tetap memperhatikan nasib industri dan tenaga kerja.

Lanjut ke halaman berikutnya >>> (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com