Kaleidoskop 2019

RI Mulai 'Angkat Senjata' Lawan Diskriminasi Sawit di Uni Eropa

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 29 Des 2019 13:20 WIB
Foto: detik
Jakarta - Diskriminasi terhadap kelapa sawit oleh Uni Eropa (UE) tak kunjung usai. Kelapa sawit Indonesia terus-menerus ditekan. Terutama ketika Komisi Eropa menyusun berkas Delegation Regulation of ILUC (indirect land use change)-RED II (Renewable Energy Directive) pada 8 Februari 2019 lalu.

Kebijakan tersebut kemudian diterbitkan secara formal pada 13 Maret 2019. Lalu, pada 10 Juni 2019, Uni Eropa resmi mengukuhkan kebijakan tersebut (Delegated Act). Atas kebijakan tersebut, kelapa sawit dicoret dalam program energi hijau di negara-negara UE. Sehingga, biodiesel berbasis kelapa sawit sudah tidak diperbolehkan di UE pada tahun 2030. Pasalnya, RED II menempatkan kelapa sawit sebagai komoditas berisiko tinggi terhadap perusakan hutan (deforestasi)/(ILUC). ILUC sendiri dinilai cacat ilmiah.

Belum lagi tudingan Uni Eropa terhadap pemerintah Indonesia. Uni Eropa menuding pemerintah memberikan subsidi yang terlalu besar terhadap pengusaha kelapa sawit. Sehingga, ketika kelapa sawit Indonesia diekspor ke Eropa, harganya sangatlah murah. Keputusan finalnya, Uni Eropa mengenakan tarif ekspor atau bea masuk terhadap 4 perusahaan biodiesel Indonesia sebesar 8-18%.

Rencana menggugat Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) pun sudah disiapkan sejak penerbitan ILUC-RED II tersebut. Hingga akhirnya, pada 9 Desember 2019, pemerintah Indonesia resmi menggugat Uni Eropa di WTO melalui Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa, Swiss.

Tak hanya menggugat Uni Eropa, pemerintah juga mengecam benua biru tersebut dengan berbagai upaya. Mulai dari ancaman terhadap pembelian pesawat Airbus, pengenaan bea masuk terhadap produk olahan susu (dairy products) dari Eropa, dan sebagainya.

Simak kilas balik perjuangan Indonesia melawan diskriminasi kelapa sawit dari Uni Eropa.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6


Simak Video "Ibu yang Curi 3 Tandan Sawit di Rohul Minta Maaf"
[Gambas:Video 20detik]