Pengusaha Prediksi Inggris Incar Sawit RI Usai Keluar dari Uni Eropa

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 31 Jan 2020 19:13 WIB
Ketua Umum APINDO Hariyadi Sukamdani
Ketua Umum APINDO Hariyadi Sukamdani/Foto: Zakia Liland Fajriani/detikcom
Jakarta -

Inggris raya resmi meninggalkan Uni Eropa (UE) pada Jumat (31/1/2020). Peristiwa ini dikenal dengan istilah British Exit (Brexit).

Pasca-Brexit, Inggris raya masih harus melalui masa transisi (penyesuaian) hingga Desember mendatang. Artinya, negara Inggris masih akan menggunakan aturan UE dalam perdagangannya sampai masa transisi itu berakhir.

Setelahnya, Inggris mungkin bakal menerapkan aturan baru dalam berhubungan dengan mitra-mitranya. Hal ini ditangkap sebagai sinyal positif bagi perdagangan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) Indonesia ke depan.

Inggris kemungkinan tidak lagi mengikuti aturan diskriminatif UE terhadap komoditas unggulan RI tersebut.

"Mungkin bisa saja, apakah nanti Inggris serta merta karena sudah tidak ada ikatan dengan Uni Eropa lalu mau mereka mau impor CPO, kita belum tahu pasti, tapi bisa saja seperti itu," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani kepada detikcom, Jumat (31/1/2020).

Meski demikian, menurut Hariyadi, dalam waktu dekat ini perubahan iklim perdagangan bilateral antar kedua negara belum terasa signifikan. Mengingat, selama ini pun hubungan dagang keduanya yang terbilang stabil dan bukan menjadi negara tujuan ekspor utama.


Untuk diketahui, Inggris sendiri merupakan negara peringkat ke-21 tujuan ekspor bagi Indonesia dengan komoditas utama ekspornya meliputi sepatu, akumulator listrik, dan kayu lapis.

"Pengaruhnya ga signifikan ya (dalam masa transisi), memang karena selama ini volume ke Inggris kan sudah berjalan cukup bagus, jadi tidak serta merta keluar UE langsung meningkat ya ga juga," tambahnya.

Sebagai informasi, diskriminasi CPO di UE dimulai lewat kebijakan yang melarang peredaran komoditas itu di kawasan Benua Biru itu sebab dianggap tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi.

Akibatnya, ekspor produk kelapa sawit Indonesia di pasar UE pun mengalami penurunan.

Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor minyak kelapa sawit dan biofuel/Fatty Acid Methyl Ester (FAME) Indonesia ke Uni Eropa menunjukkan tren negatif pada lima tahun terakhir.

Nilai ekspor FAME mencapai US$ 882 juta pada periode Januari-September 2019, atau menurun 5,58% dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 sebesar US$ 934 juta.

Sementara, nilai ekspor minyak kelapa sawit dan FAME ke dunia juga tercatat melemah 6,96% dari US$ 3,27 miliar pada periode Januari-September 2018 menjadi US$ 3,04 miliar year-on-year.



Simak Video "Bagaimana Nasib Inggris Pascabrexit?"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)