Bahaya Nih Buat Industri, Impor Bahan Baku dari China Turun

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 13 Feb 2020 16:42 WIB
Kesibukan pelayanan bongkar muat di dermaga peti kemas ekspor impor (ocean going) milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II dipastikan tetap berjalan maksimal di tengah persiapan menyambut kunjungan Ratu Kerajaan Denmark Margrethe II bersama suaminya, Prince Henrik , Jakarta, Kamis (15/10/2015). Ratu Margrethe II dan Price Henrik akan berkunjung ke lokasi ini pada pekan depan, Kamis (22/10). Seperti diketahui Maersk Line, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia asal Denmark saat ini menjadi pengguna utama Pelabuhan yang dikelola Pelindo II. Kehadiran Ratu Denmark menunjukkan kepercayaan negara asing terhadap kualitas pelayanan pelabuhan di Indonesia. Dalam satu tahun kapasitas pelayanan bongkar muat Pelindo II mencapai 7,5 juta twenty-foot equivalent units (TEUs). Agung Pambudhy/Detikcom
Foto: agung pambudhy
Jakarta -

Impor dari China mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir. Bahayanya yang mengalami penurunan termasuk impor bahan baku dan penolong untuk industri ekspor.

Menurut data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, penurunan impor dari China terjadi sejak minggu kelima di Januari 2020 sebesar 39,6% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan lonjakan impor komoditas minyak mentah, mesin, alat berat dan telepon pada Januari 2019.

Pada minggu pertama Februari 2020 mulai terlihat penurunan impor dari China sebesar 28,62%. Penurunan terjadi di semua kategori BEC seperti bahan baku kain, part elektronik, bahan baku plastik, komputer dan furniture.

"Soal jenis barang yang mengalami penurunan impor, yang turun signifikan itu dari barang konsumsi. Ini peluang buat kita tentunya substitusi impor selama ini impor buah-buahan. Itu untuk konsumsi akhir, di kita itu bisa disubstitusi," Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea dan Cukai Syarif Hidayat di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Jika dilihat dari devisa kategorinya memang penurunan paling besar terjadi pada kategori barang konsumsi sebesar 46,83% dari US$ 111,68 juta di minggu pertama Februari 2019 menjadi US$ 59,38 juta di minggu pertama Februari 2020.

Namun penurun terbesar kedua terjadi di kategori bahan baku dan penolong sebesar 31,43% dari US$ 584,12 juta menjadi US$ 400,52 juta. Lalu untuk barang modal juga turun 11,52% dari US$ 214,88 juta menjadi US$ 190,13 juta.


Penurunan impor bahan baku dari China bisa berbahaya bagi perekonomian RI. Sebab impor barang tersebut diperlukan industri dalam negeri untuk melakukan produksi barang ekspor.

"Memang untuk impor bahan baku mengalami penurunan. Tapi kita amati dalam beberapa bulan ke depan kalau turun terus memang ini jadi masalah. Karena ini bahan baku industri untuk ekspor. Kita harus hati-hati, kalau terus turun beberapa bulan harus cari sumber lain," tuturnya.

Meski begitu, Direktorat Jenderal Bea san Cukai belum bisa memastikan penurunan impor ini merupakan imbas dari virus corona. Sebab biasanya impor dari China memang mengalami penurunan secara siklus beberapa minggu sebelum dan sesudah perayaan Imlek.



Simak Video "Resesi Datang, Rezeki Tak Berkurang"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)