Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 12 Mar 2020 11:52 WIB

Petani yang Gemar Tanam Sawit dan Karet Disindir Jokowi Nih

Danang Sugianto - detikFinance
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memimpin rapat soal pusat data nasional Foto: Andhika/detikcom
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram para petani jauh lebih senang menanami lahannya dengan komoditas tertentu seperti sawit dan karet. Padahal Indonesia memiliki peluang besar di buah-buahan tropis.

Hal itu disampaikan Jokowi di depan para petani yang tergabung dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Menurutnya para petani harusnya bisa fokus mencari komoditas yang memiliki ceruk pasar besar.

"Kita juga harus fokus memilih komoditas yang memiliki nilai yang tinggi dan memiliki ceruk pasar yang besar. Komoditasnya dipilih betul-betul. Komoditas jangan yang itu-itu saja," tuturnya saat membuka acara The 2nd Asian Agriculture & Food Forum di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Padahal menurut Jokowi, buah-buahan tropis merupakan salah satu komoditas yang menjanjikan. Tapi kenyataannya saat ini kebanyakan memilih menggarap sawit dan karet. Ketika harganya jatuh, banyak yang terdampak

"Apa ada sih, saya mau tanya ada yang memiliki 10 ribu ha yang hanya ditanami buah tropis di negara kita? Yang banyak sekarang ini kita tanamnya sawit, ya kan, karet. Dari dulu itu-itu saja yang ditanam. Sawit, karet, nanti pas harganya turun kaya sekarang karet turun, sakit bareng-bareng," tambahnya.

Padahal, lanjut Jokowi, jika urusan pertanian dikelola dengan baik dengan membuat klaster penanaman bisa memberikan keuntungan. Menurutnya banyak dari negara lain yang menginginkan buah tropis RI, salah satunya buah manggis. Tapi sayangnya pasokannya tidak ada.

"Buah tropis ini sebetulnya yang diminati oleh negara-negara lain itu banyak. Permintaan yang datang ke saya banyak, misalnya manggis. Ada salah satu, salah dua lah, urus manggis. Permintaan banyak tapi barangnya nggak ada. Banyak sekali permintaan tapi barangnya nggak ada. Kita mau bicara apa. Dari Timur Tengah, Eropa, dari Tiongkok, tapi barangnya nggak ada. Mestinya kan ada," tegasnya.

Dia meminta agar anggota HKTI memiliki kebun manggis. Tujuannya untuk menyediakan pasokan jika ada permintaan dari luar negeri.

"Dari HKTI satu dua yang memiliki kebun manggis. Tidak usah banyak-banyak lah, tidak usah 100 ribu ha, tapi 5 ribu ha. Minta lahan segitu kan mudah. Asal jangan di Jawa. Masih banyak lahan kita tapi ya disampaikan ini mau kita tanami ini manggis dengan cara ini," tutupnya.



Simak Video "Jokowi 'Cuek' Sawit RI Ditolak Eropa"
[Gambas:Video 20detik]
(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com