Dolar AS Tinggi Jadi Kendala Impor Bahan Baku APD

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 03 Apr 2020 12:25 WIB
Pekerja membuat pakaian alat perlindungan diri (APD) tenaga medis di Pusat Industri Kecil, Penggilingan, Jakarta, Kamis (26/3/2020). Pakaian APD tersebut dijual Rp45.000 untuk jenis pakaian sekali pakai dan Rp75.000 untuk pakaian yang bisa dicuci. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama.
Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA
Jakarta -

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai tingginya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menjadi kendala dalam impor bahan baku alat pelindung diri (APD). Saat ini APD amat diperlukan untuk penanganan virus corona (Covid-19).

Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 16.470. Sebenarnya angka tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin di level Rp 16.551.

"Harga dolar saja ini yang jadi kesulitan. Kita kan (bahan baku) belinya (menggunakan) dolar ya," kata Sekretaris Jenderal API Rizal Tanzil Rakhman saat dihubungi detikcom, Jumat (3/4/2020).

Naiknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah membuat bahan baku impor yang dapat dibeli lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

"Kendala di bahan baku ada di dolar kan. Kalau dolar tinggi begini harusnya kita bisa 10 ton beli misalkan begitu ya, karena rupiah terhadap dolarnya tinggi kan jadi paling cuma dapat 8 ton atau 7 ton," sebutnya.

Pihaknya pun tidak bisa begitu saja menaikkan harga jual APD imbas naiknya nilai tukar dolar AS. Pasalnya kondisi saat ini menyangkut masalah kemanusiaan.

Pelaku industri juga tidak bisa menunda untuk membeli bahan baku impor sampai nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mereda. Jika ditunda maka pemenuhan kebutuhan APD dalam negeri bisa terganggu.

"Nggak (bisa ditunda) sih, kan kebutuhan nasional mendesak yang urgent ya, mau nggak mau kita mesti beli, tetap saja beli cuma jumlahnya jadi berkurang," tambahnya.



Simak Video "Kampanye Prokes, Pemuda di Tasik Bangunkan Warga Sahur Pakai APD"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/dna)