Bagaimana 3 Raksasa Mobil Bertahan di Tengah Krisis Corona?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 09 Apr 2020 12:05 WIB
Pabrik Wuling Cikarang
Foto: Wuling Motors
Jakarta -

Imbas dari pandemi Corona produksi pabrik mobil di Amerika Serikat (AS) terus mengalami penurunan. Penjualan mobil di AS diperkirakan turun lebih dari 50% pada kuartal kedua.

Sebagian pabrik otomotif telah tutup dan banyak yang memberikan kebijakan ekstrem, seperti PHK, cuti tak berbayar, hingga pemotongan gaji.

Lain hal yang dilakukan oleh GM, Ford dan Fiat Chrysler AS, walaupun mereka harus merumahkan sementara pekerja, perusahaan tetap menjamin tunjangan pengangguran hingga kompensasi yang totalnya mendekat total gaji pekerja.

Perkiraan penurunan penjualan hingga 50% terbesar dalam 40 tahun terakhir. Angka ini mengalahkan rekor penurunan saat resesi terbesar 2009 terjun hingga 38%, bahkan General Motors (GM) dan Chrysler sempat diambang kebangkrutan pada saat itu.

Kabar baiknya saat ini tiga besar pabrik di AS, yakni GM, Ford dan Chrysler menjadi perusahaan mobil yang masih memiliki neraca yang relatif kuat.

John Murphy, analis otomatis di Bank of America-Merrill Lynch memperkirakan tiga perusahaan otomotif terbesar di AS ini 5 sampai 7 bulan ke depan masih memiliki cadangan uang dan tahan selama menghadapi krisis Corona.

Rencana untuk membuat dan menjual mobil generasi baru seperti mobil listrik dan mobil self-driving tetap membutuhkan sumber daya. Rencana ini akan menelan miliaran dollar.

Strategi yang bijaksana pada situasi saat ini dengan tetap berinvestasi pada sektor produk teknologi. Jika kiat ini dilakukan perusahaan akan kompetitif tiga hingga tujuh tahun ke depan.

"Jika tetap berinvestasi pada jangka panjang di situasi krisis saat ini. Suatu pillihan yang bijaksana untuk menjamin keuangan perusahaan dalam jangka panjang," lanjut Murphy

"Saya pikir investasi adalah mode bertahan hidup yang tepat bagi perusahaan selama krisis Corona ini," kata Jeff Schuster, presiden perusahaan riset mobil LMC.

Lima tahun terakhir pabrik mobil di AS dapat menghasilkan lebih dari 17 juta kendaraan. Penutupan dan berhentinya pabrik mobil berimbas menurunnya produksi mobil. Pandemi virus Corona terbukti menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah industri otomotif.

Melansir dari CNN Bussines, Kamis (9/4/2020), Kristin Dziczek, Wakil Presiden Penelitian di Center for Automotive Research, mengatakan industri otomotif akan menghadapi tiga tantangan besar selama krisis virus Corona ini.

Pertama, perusahaan mobil harus memastikan kesiapan pemasok pabrik untuk mengirimkan suku cadang yang diperlukan pabrik. Kedua, bagaimana cara pabrik dapat membuka kembali produksinya dengan mengimbau pekerja tetap menjaga jarak.

Apakah Liverpool gagal menjadi juara lagi?

Ketiga, bagaimana perusahaan menjamin kesehatan 1.500 pekerja untuk bekerja kembali, di saat situasi saat ini belum ada vaksin Corona.

"Dengan memberlakukan pekerja kembali ke pabrik, itu merupakan hal yang berisiko saat pandemi virus Corona masih ada," kata Schuster

Perusahaan otomotif harus terus mencari cara untuk menyelamatkan perusahaannya selama krisis pandemi Corona.

Pada krisis industri pada 2008 hingga 2009, perusahaan sedikitnya tetap memproduksi mobil. Meskipun beberapa pabrik memang terhenti.

"Berbeda pada krisis saat ini, semua terhenti dan tidak ada produksi mobil," Dziczek



Simak Video "Sebaran Kasus Aktif Corona RI Per 4 Oktober, Terbanyak di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)