Ini Biang Kerok Harga Gula Mahal

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 10 Apr 2020 12:00 WIB
Pemerintah melalui Perum Bulog turut serta mendorong stabilisasi komoditas pangan dengan menjual sembako di 17 titik bersama polisi dan Tentara Negara Indonesia (TNI). Pelepasan sembako tersebut dilakukan oleh Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) di Gudang Drive DKI Jakarta, Jakarta, Rabu (7/6/2018).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) blak-blakan penyebab harga gula di Tanah Air tinggi. Salah satu penyebab utamanya yakni kelangkaan stok karena perusahaan pelat merah tersebut tak memperoleh izin impor gula kristal mentah atau raw sugar yang rencananya diolah oleh anak usaha Bulog yakni Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) menjadi gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi.

Buwas mengungkapkan, sejak akhir 2019, pihaknya sudah memprediksi kelangkaan stok gula berdasarkan analisis sejumlah lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Badan Intelijen Negara (BIN), dan lainnya. Oleh sebab itu, pada November 2019, Bulog mengajukan impor raw sugar kepada pemerintah.

"Karena kami sudah memprediksi jauh hari, setiap tahun itu kita akan kekurangan bahan-bahan yaitu salah satunya gula. Pada saat itu pabrik GMM sudah selesai masa giling tebu, maka harus dipasok dengan raw sugar. Maka kami mengajukan impor raw sugar, sehingga kami bisa menyetok gula yang dibutuhkan karena tugas Bulog kesiapan untuk operasi pasar," ungkap Buwas dalam rapat virtual dengan Komisi IV DPR RI, Kamis (9/4/2020).

Namun, hingga memasuki tahun 2020, pemerintah tak kunjung menerbitkan izin impor gula kepada Bulog. Impor tersebut baru dikabulkan pada akhir Maret 2020 di mana lonjakan harga gula sudah terjadi di seluruh Indonesia.

"Namun ini juga baru bisa direalisasikan akhir Maret 2020. Karena begitu sulitnya birokrasi yang kami tempuh. Dan pada akhirnya kami tidak bisa menggiling gula untuk kebutuhan-kebutuhan tadi." ujar Buwas.

Selanjutnya
Halaman
1 2