Industri Tekstil Dihajar Corona hingga ke Titik Nadir

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 28 Apr 2020 08:00 WIB
Produk tekstil impor dari China makin deras masuk ke Indonesia. Para pengusaha industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jabar pun mengeluh karena terancam bangkrut.
Ilustrasi Foto: Rico Bagus

Sekretaris Ekskutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan, industri TPT dalam negeri tak lagi memiliki pemasukan, namun masih memiliki tanggungan yang besar.

Penyebabnya tak lain adalah dampak virus Corona (COVID-19) terhadap sirkulasi perekonomian Indonesia.

"Di pabrik tekstil cash flow tertekan, tidak ada pemasukan karena tidak bisa jual barang. Kemudian kewajiban tetap berjalan, bayar listrik, tenaga kerja, BPJS, bunga bank, itu kan terus berjalan. Artinya kewajiban berjalan tapi pemasukan nggak ada. Itu yang terjadi sekarang di pabrik tekstil," kata Rizal kepada detikcom, Sabtu (25/4/2020).

Rizal membeberkan, saat ini saja produksi industri TPT anjlok 70% atau minus 4,6 juta ton dari produksi di saat-saat normal sebelum Corona.

"Kita menghitungnya dari utilitas dan produksi, dan pengurangan tenaga kerja. Imbasnya kan langsung ke kita. Mesin itu misalnya 100 yang jalan, sekarang paling 30, jadi 70% sudah berhenti, bahkan banyak juga yang sudah tutup total. Karena tidak ada permintaan, jadi tidak ada produksi. Kita mengukurnya dari sisi produktivitas industri," bebernya.


Kondisi tersebut akhirnya membuat para pengusaha terpaksa merumahkan hingga melakukan PHK kepada karyawannya.

"Banyak yang dirumahkan, atau di PHK karena tidak ada pemasukan. Sedangkan kewajiban terus berjalan. Ya satu-satunya cara adalah merumahkan karyawan," ungkap Rizal.

Halaman


Simak Video "200 Karyawan di Makassar Terkena PHK Selama Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]

(toy/ang)