BUMN Pengelola Kawasan Industri Targetkan Laba Rp 117 M

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 26 Jun 2020 18:53 WIB
Sattar Taba ditunjuk kembali sebagai Direktur PT KBN
Foto: Dok. PT KBN
Jakarta -

PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) atau KBN berpotensi membukukan laba bersih sebesar Rp 117,81 miliar pada semester I-2020. Potensi ini meningkat dibanding laba yang dicapai sepanjang tahun 2019 yang sebesar Rp 92,6 miliar. Sementara aset KBN kini tercatat sebesar Rp 2,367 triliun.

Direktur Utama KBN HM Sattar Taba menjelaskan, pandemi virus Corona memang berdampak terhadap perekonomian nasional, bahkan global. Aktivitas bisnis menurun sebagai dampak kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan oleh pemerintah guna mengendalikan penyebaran virus corona.

"Tapi di tengah kesulitan selalu ada peluang. Seluruh jajaran KBN bekerja keras memanfaatkan peluang yang ada. Sebagai perusahaan pengelola kawasan industri, kami menarik minat investor yang usahanya tidak begitu terdampak oleh COVID-19," kata Sattar, Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Sebagai informasi, di tahun 2013, laba KBN melonjak menjadi Rp 240,25 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 41,18 miliar. Aset juga meningkat menjadi 1,257 triliun dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 841 miliar. Pada tahun 2014, laba KBN kembali meningkat menjadi Rp 265 miliar dengan aset mencapai Rp 1,7 triliun.

Saat ini KBN sedang mengembangkan Takalar Integrated Industrial Park (TIIP) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Letaknya strategis karena dilewati oleh alur pelayaran internasional yakni Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, dengan jarak ke pelabuhan terdekat sekitar 25 kilometer (km).

TIIP merupakan kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan dan berkonsep multi cluster industries yang didukung oleh infrastruktur kawasan yang lengkap. TIIP rencananya dibangun di lahan seluas 3.500 hektare dengan perincian 2.600 hektare untuk kawasan industri, 100 hektare kawasan pelabuhan, 100 hektare kawasan perumahan dan komersial, serta 45 hektare menjadi kawasan golf.

Sementara, di kawasan industri, seluas 1.000 hektare dijadikan bonded recycling nonferrous metals processing industry atau industri pengolahan logam bukan besi dan dikerjakan dalam beberapa tahap. Sebanyak 50 perusahaan daur ulang (recycling) asal China di bawah bendera CMRA telah menyatakan kesiapannya bergabung di kawasan industri baru ini dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp 40 triliun.

Nilai produksi diperkirakan mencapai Rp 200 triliun per tahun setelah konstruksi selesai. Investasi ini menyerap 5.000 tenaga kerja langsung, dan mendorong terbukanya 10.000 lapangan kerja tidak langsung.



Simak Video "Selain Rangkap Jabatan, ICW Juga Soroti Jumlah Komisaris di BUMN"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/ara)