Sedihnya! Puluhan Pabrik Sepatu Setop Produksi Gegara Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 21 Agu 2020 13:15 WIB
stinky hiking boot.Process of cleaning shoes
Foto: iStockphoto
Jakarta -

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengungkapkan sekitar 18% pabrik sepatu menghentikan atau setop produksi lantaran terdampak Corona. Sebanyak 18% ini sekitar 20 pabrik dari total 120 produsen yang tercatat menjadi anggota Aprisindo.

Direktur Eksekutif Aprisindo, Firman Bakri mengatakan keputusan menghentikan produksi dilakukan usai lima bulan terdampak Corona. Selama pandemi permintaan akan sepatu menurun. Pabrik sepatu yang setop produksi ini kebanyakan berorientasi ekspor dan domestik.

"Ada yang betul-betul setop produksi sekitar 18%. Mereka sangat kesulitan akhirnya nggak kuat juga," kata Firman seperti yang dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (21/8/2020).

Penghentian produksi sekitar 20 pabrik ini juga berdampak pada puluhan ribu pegawai. Menurut Firman, tingkat utilitas atau tingkat pemanfaatan kapasitas produksi saat ini di bawah batas normal.

"Jauh ya, sekarang utilitas 32%. Jadi yang masih jalan masih banyak tapi volume mengecil. Banyak yang lakukan 3 hari kerja, 2 hari libur, masih banyak seperti itu," ujarnya.

Di tengah kesulitan itu, Firman mengaku pelaku usaha butuh bantuan untuk lebih cepat pemulihan. Namun justru muncul sejumlah regulasi yang memberatkan.

Regulasi itu di antaranya adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Metode Pengujian, Tata Cara Pendaftaran, Pengawasan, Penghentian Kegiatan Perdagangan dan Penarikan Barang Terkait dengan Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup (K3L).

"Beredarnya produk ada izin edar. Kalau di Kemenkes ada BPOM, Kementerian Perindustrian ada SNI. Ini Kemendag keluarkan Permendag, ada syarat standar mutu lagi, sebenarnya itu duplikasi pengaturan, karena bicara standar mutu juga Ketika dilihat lebih dalam lagi sangat memberatkan. Masalahnya peraturan-peraturan ini ada tumpang tindih dalam pengawasan, jadi sewaktu-waktu bisa aparat hukum, selama ini kita harap pembinaan," katanya.

Industri alas kaki termasuk yang banyak terjadi PHK massal. Kasus PHK massal terungkap ke publik misalnya PT Shyang Yao Fung Kota Tangerang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal 2.500. Produsen sepatu buyer Nike ini merelokasi pabrik ke Jawa Tengah. Setelah itu, ada PHK massal 4.985 pekerja PT Victory Chingluh Indonesia, selaku produsen buyer Nike dan Adidas.

Sementara itu, pemerintah tidak membantah mengenai hal ini, namun menurut Kementerian Perindustrian, sejumlah industri alas kaki tersebut hanya menghentikan produksi sebagian, bukan seluruhnya.

"Kalau menghentikan produksi sama sekali sih tidak. Industri emngurangi produksinya sehingga harus men gistirahatkan karyawannya dulu untuk sementara, karena demand yang sedang turun terutama di dalam negeri," ujar Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh.

Elis mengatakan, ada sejumlah industri alas kaki yang memilih relokasi ketimbang menghentikan produksi.

"Dan beberapa industri alas kaki juga bukan memberhentikan produksi tetapi relokasi sebagian dari Jabodetabek ke Jawa Tengah," ujarnya.



Simak Video "50 Nakes di Subang Jalani Tes Swab Usai Rekannya Positif Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)