Begini Dampak Ngeri Corona Buat Industri Rokok

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 13:25 WIB
Pemerintah akan menaikkan cukai rokok 23% dan harga jual eceran (HJE) 35% mulai tahun depan.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pandemi Corona (COVID-19) memukul berbagai macam industri termasuk industri rokok. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (Sampoerna) salah satunya merasakan dampak buruk dari pandemi tersebut.

Akibat adanya pandemi tersebut, penjualan emiten berkode saham HMSP merosot dua digit dibanding penjualan tahun sebelumnya.

"Sampoerna menyadari pandemi COVID-19 ini merupakan tantangan yang berdampak langsung baik pada publik maupun dunia usaha Indonesia. Untuk industri rokok, kenaikan tarif cukai rata-rata 24% dan harga jual eceran sebesar 46% yang berlaku pada 2020 serta pandemi COVID-19 menjadi dua faktor utama yang memberikan dampak signifikan pada kinerja industri ini yang telah menyebabkan penurunan volume penjualan hingga dua digit," ujar Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis dalam Paparan Publik secara Virtual, Jumat (18/9/2020).

Selama masa puncak pandemi, khususnya pada kuartal II-2020 atau selama periode April-Juni 2020 terjadi koreksi mendalam bagi kinerja perseroan. Sehingga bila ditotal, sepanjang semester I-2020, pangsa pasar perusahaan mengalami degrasi sebesar 29,3% atau turun 3,1 percentage point, sementara volume pengiriman anjlok 38,5 miliar batang mencerminkan penurunan sebesar 18,2%.

Meski begitu, Mindaugas meyakinkan bahwa Sampoerna masih mampu menyesuaikan strategi perusahaannya untuk mempertahankan daya saing bisnis dan menjawab tren yang berubah.

"Sebagai contoh, kami meluncurkan produk SKM (Sigaret Kretek Mesin) tar tinggi untuk merespon pergeseran permintaan ke produk tar yang lebih tinggi," katanya.

Sebelumnya, sepanjang 2019, Sigaret Kretek Tangan (SKT) Sampoerna, dengan merek-merek besar seperti Dji Sam Soe (Raja Kretek) dan Sampoerna Kretek masih mampu menjaring pangsa pasar hingga 36,3%, lebih tinggi dari SKM.

Sedangkan pangsa pasar Sigaret Putih Mesin (SPM) (melalui Produk utamanya Marlboro, merek Philip Morris Indonesia (PMID) yang didistribusikan oleh Sampoerna) dan SKM masing-masing sebesar 57,2% dan 29,6%.



Simak Video "Kemenko PMK: 25,9% Pemuda Merokok, Asal Muasal Penyalahgunaan Narkoba"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)